Rusdi Hidayat Jufri (Anggota Komisi Hubungi Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel)
Makassar, muisulsel.or.id – Di era globalisasi, lembaga keagamaan tidak lagi cukup hanya menjadi penjaga nilai-nilai moral dan spiritual. Dunia menuntut hadirnya institusi yang mampu membangun kolaborasi, menghadirkan solusi, dan memperkuat peradaban. Di sinilah Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya MUI Sulawesi Selatan, memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam lima tahun mendatang.
Mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kofi Annan, pernah mengatakan, “Knowledge is power. Information is liberating. Education is the premise of progress.” Pengetahuan adalah kekuatan, informasi membebaskan, dan pendidikan merupakan dasar kemajuan. Pesan ini mengingatkan bahwa kemajuan umat tidak hanya dibangun melalui dakwah, tetapi juga melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kemampuan membangun jejaring global.
Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara. Dengan modal tersebut, MUI Sulsel dapat berkembang menjadi pusat diplomasi umat di kawasan Indonesia Timur. Diplomasi yang dimaksud bukanlah diplomasi politik, melainkan diplomasi kemaslahatan untuk membangun kerja sama dalam pendidikan, ekonomi syariah, kemanusiaan, penelitian, serta penguatan ukhuwah Islamiyah.
Nelson Mandela mengatakan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Karena itu, penguatan sumber daya manusia harus menjadi prioritas. MUI Sulsel dapat mendorong lahirnya ulama, dai, dan cendekiawan Muslim yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan global, kemampuan bahasa asing, serta kesiapan menghadapi tantangan zaman.
Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel memiliki ruang yang luas untuk mempererat hubungan dengan lembaga-lembaga Islam dunia, universitas internasional, organisasi kemanusiaan, lembaga filantropi, serta pusat ekonomi syariah. Kolaborasi tersebut akan membuka akses terhadap pertukaran ulama, dosen, mahasiswa, santri, penelitian bersama, hingga pengembangan ekonomi umat.
Dalam konteks kolaborasi, Helen Keller pernah mengingatkan, “Alone we can do so little; together we can do so much.” Sendiri kita hanya mampu melakukan sedikit, tetapi bersama-sama kita dapat melakukan banyak hal. Spirit inilah yang perlu menjadi fondasi hubungan MUI dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai mitra internasional.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi syariah dunia merupakan peluang besar yang tidak boleh dilewatkan. MUI Sulsel dapat menjadi penghubung antara pelaku UMKM, pesantren, koperasi syariah, dan lembaga halal internasional sehingga produk-produk lokal mampu memasuki pasar global dengan standar yang semakin baik.
Tidak kalah penting adalah diplomasi kemanusiaan. Islam mengajarkan kepedulian kepada seluruh manusia. Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui kerja sama dalam bidang pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Sebagaimana pesan Mahatma Gandhi, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Cara terbaik menemukan jati diri adalah mengabdikan diri untuk melayani orang lain.
Era digital juga membuka ruang baru bagi dakwah dan diplomasi. Kehadiran MUI Sulsel di ruang digital harus semakin kuat, profesional, dan adaptif. Konten-konten yang mencerahkan, berbasis ilmu, serta mencerminkan wajah Islam yang damai perlu disebarluaskan hingga menjangkau masyarakat internasional. Meskipun Alhamdulillah sejauh ini MUI Sulsel telah menunjukkan progres yang sangat baik dalam bidang digital dan dakwah pun semakin mudah dijangkau.
Lima tahun ke depan hendaknya menjadi periode transformasi bagi MUI Sulawesi Selatan. MUI diharapkan tidak hanya dikenal sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa, tetapi juga sebagai pusat kolaborasi, pengembangan sumber daya manusia, diplomasi kemanusiaan, dan kerja sama internasional yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Harapan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menuju Indonesia Emas 2045. Masyarakat membutuhkan lembaga yang mampu merangkul, menghubungkan, dan menggerakkan seluruh potensi umat untuk kemajuan bersama.
Sebagaimana ungkapan Simon Sinek, “Leadership is not about being in charge. It is about taking care of those in your charge.” Kepemimpinan bukan tentang memiliki kekuasaan, melainkan tentang melayani dan menjaga orang-orang yang dipimpin. Semoga MUI Sulawesi Selatan mampu menjadi pelopor diplomasi umat yang berintegritas, memperkuat ukhuwah Islamiyah, membangun jejaring internasional, serta menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan. Sehingga MUI Sulawesi Selatan terus berpegang pada khitahnya sebagai Khadimul Ummah (pelayan umat) dan Shadiiqul Hukumah (mitra pemerintah).
*Irfan Suba Raya*
