MAKASSAR — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Mustari Bosra, mendorong generasi muda Islam untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an sebagai pedoman menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal itu disampaikan Prof.Mustari Bosra saat memberikan sambutan pada Pembukaan Karantina Tahfidz Al-Qur’an yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Balai Kartini, Jalan Masjid Raya, Makassar, Rabu (7/10/2026).

Prof.Mustari yang juga menjadi pembina kegiatan tersebut menyebut program Karantina Tahfidz Al-Qur’an ini telah memasuki angkatan ke-10.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki keimanan, ketakwaan, ilmu pengetahuan, serta kemampuan menguasai perkembangan zaman.
“Bagi kami di Majelis Ulama sebagai khadimul ummah, mitra pemerintah, sekaligus memiliki tugas himayatul ummah, sangat berkepentingan agar umat Islam senantiasa ditingkatkan kualitasnya, baik keimanan, ketakwaan maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.
Ia menegaskan, Al-Qur’an menjadi benteng sekaligus petunjuk bagi umat Islam di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Al-Qur’an disebutnya sebagai huda lil-muttaqin dan petunjuk menuju jalan yang paling lurus.
Karena itu, Prof.Mustari mengajak umat Islam untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga mempelajari, memahami, menghafal, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya yang semakin terdorong untuk mempelajari Al-Qur’an dan tafsir. Meski selama ini dikenal sebagai guru besar bidang ilmu politik, Mustari kini menempuh pendidikan doktoral di UIN dengan konsentrasi tafsir.
“Saya ingin melalui proses belajar dan mengajarkan tafsir ini secara pribadi. Jangan hanya menyuruh orang lain belajar Al-Qur’an, tetapi kita sendiri harus belajar,” katanya.
Mustari juga memperkenalkan konsep Gerakan P7 Al-Qur’an, yakni tujuh kewajiban umat Islam terhadap Al-Qur’an. Di antaranya ta’lim atau belajar Al-Qur’an, tartil dengan memperbaiki bacaan, tilawah dengan membaca dan menelaah, tahfizh atau menghafal, serta tadabbur dengan memahami dan mengkaji maknanya.
Menurutnya, gerakan tersebut diharapkan dapat mendorong umat Islam membangun hubungan yang lebih kuat dengan Al-Qur’an, mulai dari membaca hingga mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
“Kalau perlu kita ajarkan Al-Qur’an kepada anak, cucu, dan keluarga. Inilah jalan untuk mendapatkan kemuliaan dan surga yang tinggi,” tuturnya.
Irfan Suba Raya
