Pesan Kebangsaan di Milad MUI ke-48

Gowa, muisulsel.or.id – Majelis Ulama Indonesia atau MUI merupakan tempat musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim di Indonesia guna membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia bahkan dunia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia. (mui.or.id, 2023).

Momentum hari lahir di tahun ini terangkai dengan Tahun Baru Hijriah 1445 H. Usia yang hampir mencapai setengah abad, tentu tidak berjalan mulus. Dukungan pemerintah dan masyarakatlah yang menguatkan MUI sehingga dapat tetap kokoh untuk membina umat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam sejarahnya, MUI berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zuama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, yaitu 26 orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, telah dihasilkan yaitu sebuah kesepakatan untuk membentuk perkumpulan bermusyawarahnya para ulama. Zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I. Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.

Perlu dipahami kembali makna ulama, zuama dan cendekiawan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ulama itu orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Zuama diartikan sebagai pimpinan organisasi atau pemerintah. Cendekiawan yaitu orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Oleh karena itu, MUI sebenarnya ditempati oleh orang-orang yang paham tentang perkembangan keilmuan yang ada dan mampu menjawab persoalan-persoalan masyarakat.

Dalam momentum milad tahun ini, setidaknya ada dua refleksi yang paling utama bagi MUI. Pertama, MUI harus memahami jati dirinya sebagai pewaris para nabi. Tentu berat, tugas kenabian yang diemban untuk ukuran manusia biasa. Tetapi ulama tentu memiliki kiat-kiatnya sehingga misi kenabian dapat dijalankan dengan baik. Di antara sekian banyak tugas kenabian, misi termulia adalah sebagai rahmat bagi semesta.

Peran ulama tidak saja di kawasan lingkungan paling bawah yaitu Kecamatan. Lingkup rahmatan lil alamin sejatinya mencakup kehidupan di semua tempat bahkan sampai kehidupan di udara dan tata surya. Bagaimana misalnya ulama memberi fatwa agar bumi tidak merusak dengan mengotori udaranya. Kehidupan yang damai, tentu seruan semua agama terlebih dalam Islam. MUI sebagai representasi Islam, namun di waktu lain, menjadi representasi bagi semua agama yang resmi di Indonesia bahkan mengayomi ragam keyakinan yang ada di Indonesia bahkan di dunia.

Kedua, ulama dalam momentum hari lahirnya di tahun ini, mesti semakin peka terhadap isu-isu kebangsaan. Bangsa Indonesia dijadikan laboratorium rumah aman bagi seluruh masyarakat. Kemudian, dari titik nusantara inilah yang akan menyebar seluruh penjuru bangsa yang ada di dunia. Isu-isu kebangsaan yang paling fundamental adalah bagaimana menghormati perjuangan pendiri bangsa sendiri. Memang belum ada bangsa yang ada di dunia ini yang mampu eksis melebihi 2000 tahun. Tentu kita berharap menjadi bangsa yang kuat hingga ribuan mendatang melalui jangkar ulama di Indonesia. Keunikan di Indonesia ini dengan adanya pegangan utama, yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Walau Indonesia secara kemerdekaan baru melewati setengah abad. Namun sejatinya, Indonesia telah lama dijaga oleh para leluhur bangsa.

Dari aspek kebangsaan, ulama Indonesia juga memainkan peran penting dalam perkumpulan ulama dunia. Ulama secara institusi memiliki rumah-rumah organisasi. Namun rumah besarnya para ulama yaitu MUI. MUI pelayan umat mesti diarusutamakan dalam agenda harian. Sehingga ulama bukan hanya sebatas fatwa atau pembaca doa saja. Ulama memiliki cakupan yang lebih luas yaitu merawat persatuan dunia dan lokal.

Selain itu, Ulama mesti disiapkan sejak dini. Mengdorong kader-kader ulama tanpa membedakan jenis kelamin, ini mestinya didorong oleh MUI. Regenerasi keulamaan harus diestafetkan kepada generasi muda sejak dini. Sehingga nantinya, ulama itu bukan hanya sekedar perkumpulan lima tahunan saja. Ulama di masa di mendatang harus lebih menitikberatkan kepada aspek-aspek keumatan.

Proyeksi ulama dalam wadah MUI sebagai pemersatu segala perbedaan yang ada.  MUI menjadi persatuan tokoh-tokoh agama dan ilmuwan sehingga mampu menjadi uswatun hasanah (teladan) bagi umat. Jika ulama terpecah atau bahkan saling menyalahkan, maka tidak jauh berbeda dengan persekutuan anak-anak yang sering konflik.

Keulamaan mestinya mampu merendahkan ego-ego sektoral demi kepentingan yang lebih besar. Ulama dewasa ini, harus menjadi penyejuk umat, bukan pemantik kemarahan umat. Ulama harusnya menjadi pemeluk umat, bukan malah penarik simpati untuk mendapat dukungan semata. Ulama semestinya menjadi keteladanan, sehingga teladannya mampu diimplementasikan dalam tugas dan fungsinya sebagai pelayan umat dan koleganya bagi pemerintah.

MUI secara independen lahir dari semangat persatuan. Sehingga MUI hari ini dan nanti harus menjaga semangat pendiriannya. MUI harus lebih menonjolkan karismatik tanpa sekat dengan masyarakat. MUI berulangtahun, maka masyarakat Indonesia turut gembira bahkan dunia turut merayakan. Selamat ulang tahun MUI, semoga semakin kredibel dan terus menjadi pemersatu di banyaknya perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia dan tentunya bagi seluruh bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.