Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Gunung Rinjani, salah satu gunung megah yang menjulang di Pulau Lombok yang menyimpan keindahan seakan mustahil dilukiskan sepenuhnya dengan kata.
Keindahannya yang muncul lewat gambar dan video di media sosial begitu kuat bagai magnet, menarik ribuan mata dan hati yang belum pernah menginjakkan kaki di sana, bagai menyihir, membisikkan ajakan yang tak tertolak, datanglah, lihatlah, dan rasakanlah keindahan panoramanya, semuanya seperti potongan surga yang diletakkan ke bumi.
Namun, keindahan itu bukan hadiah yang datang begitu saja. Rinjani tak menawarkan pesonanya tanpa peluh dan perjuangan. Di balik video estetik dan foto-foto viral, tersimpan kisah nyata tentang dingin yang menggigit, napas yang tersengal, kaki yang nyaris menyerah, dan mental yang diuji habis-habisan.
Mendaki Rinjani bukan sekadar perjalanan fisik, tapi ziarah batin yang mengajarkan bahwa keindahan sejati hanya lahir dari proses, ketulusan, dan keberanian untuk terus melangkah meski nyaris menyerah.
Maka izinkan saya sedikit mengulas sisi lain dari peristiwa evakuasi Agam dan tim rescue pada korban WNA Yuliana, salah satu wisatawan asal Brasil yang terpukau oleh keindahan Rinjani. Ia datang dari jauh untuk menyaksikan kemegahan alam, namun takdir menuliskan babak yang berbeda. Di tengah kekagumannya terhadap panorama alam Rinjani, ia justru mengalami musibah dan harus dievakuasi oleh tim SAR. Apakah ini kebetulan? Ataukah barangkali cara Allah mengetuk hati kita semua?
Kejadian ini, seakan Allah ingin mengingatkan kita bahwa keindahan dunia, betapa pun megah dan memesona, tetaplah rapuh dan terbatas. Bahwa keta’juban kita terhadap alam tak boleh berhenti di situ, melainkan harus mengalir membawa hati kita untuk semakin mengenal dan mendekat kepada Sang Pencipta, karena keta’juban yang hanya berhenti pada ciptaan adalah kekaguman yang palsu. Allah menciptakan keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tapi untuk mengajak kita lebih dekat kepadaNya.
Dan sungguh, saat melihat keindahan Gunung Rinjani, hati kita pasti mengakui, ini bukan karya manusia. Hati siapapun akan berkata Ini adalah ciptaan sang semesta alam, Allah subhanahu ta’ala.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190).
Ayat ini bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direnungi. Karena orang-orang berakal adalah mereka yang
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ، وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”.(QS. Ali ‘Imran: 191).
Dan ketika mereka merenung, mereka berdoa
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Bahwa keindahan dunia ini fana, dan ketajuban atas Rinjani belum sebanding dengan keindahan surga yang dijanjikan, dan bahkan disebut berulang-ulang dalam Al-Qur’an, dijanjikan langsung oleh Allah kepada orang-orang beriman, bahkan disampaikan pula melalui lisan mulia Rasulullah shallallahu alaihi wassallam
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa nikmat yang menyenangkan pandangan mata, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).
Rinjani hanyalah kilasan kecil, bukan surga dan tidak akan menandingi keindahan surga, namun ini hanyalah isyarat lembut dari Allah ta’ala tentang janjiNya yang jauh lebih megah. Jika keindahan ini bisa membuat kita kagum terdiam, bahkan menangis bahagia, maka bagaimana lagi dengan keindahan surga yang dipenuhi kenikmatan yang kekal abadi
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ
Artinya: “Ketahuilah, barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Tirmidzi).
Dan sebagaimana pendaki yang menangis saat menjejakkan kaki di puncak Rinjani yang baru saja melewati perjuangan panjang, melewati terjalnya tanjakan, dinginnya malam, dan lelah yang tak terucap, begitu pula kelak hamba-hamba Allah akan menangis haru saat menginjakkan kaki di dalam surga sebagai puncak dari segala keindahan, jauh melampaui panorama Gunung Rinjani atau keindahan dunia mana pun.
قال الله تعالى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ، مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Artinya: “Allah Ta’ala berfirman: Aku telah siapkan bagi hamba-hambaKu yang shalih, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Bukhari & Muslim).
Tangis yang bukan karena lelah, tapi karena semua lelah itu akhirnya terbayarkan. Tangis bahagia karena semua ujian kesakitan dunia, duka kesedihan yang pernah ditahan, ujian yang pernah hampir meruntuhkan, semuanya lenyap, diganti dengan keabadian yang tak lagi mengenal derita.
Saat itu, tak ada lagi luka. Tak ada lagi duka. Tak ada lagi kehilangan.
Yang tersisa hanyalah nikmat yang tak pernah putus, dan janji Allah yang menjadi nyata.
Maka jika kita mendambakan keindahan yang abadi, kita pun harus mendaki. Bukan hanya mendaki bukit atau gunung, tetapi mendaki tangga ketaatan, ketekunan, kesabaran, dan amal yang jernih. Sebab surga tidak diraih dengan langkah santai. Ia digapai dengan tekad yang diuji, kesabaran yang ditempa, dan iman yang diperjuangkan. Bukan sekadar berlomba menaklukkan puncak gunung yang keindahannya terbatas, tapi berlomba mengejar surga tertinggi, menikmati puncak keindahan dan kemegahan yang tak berbatas.
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
Artinya: “Dan untuk yang demikian itu (meraih kenikmatan surga) hendaknya mereka berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26).
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، الَّذِينَ تَشَوَّقَتْ نُفُوسُهُمْ إِلَيْهَا، وَجَعَلُوا الْجِهَادَ وَالصَّبْرَ عَلَى دُرُوبِهَا، وَرَزَقْتَهُمُ النَّظَرَ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ فِيهَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, yang hatinya merindukannya, yang jiwanya berjuang di jalannya, dan Engkau karuniakan kenikmatan memandang wajahMu Yang Mulia di dalamnya.”
Aamiin …
Irfan Suba Raya
