Dr KH Shaifullah Rusmin Lc M Th I (Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Sulsel)
Makassar,muisulsel.or.id – Sebagaimana kita ketahui tujuan puasa adalah menciptakan manusia-manusia yang bertakwa. Dalam Al- Qur’an Allah memerintahkan kita agar menjadi orang yang bertakwa sebab dengan takwa kita bisa mencapai kedudukan yang sangat mulia disini Allah swt.
Sebagaimana Firman Allah dalam surah Al- Baqarah ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Semulia-mulia kedudukan manusia dihadapan Allah swt adalah orang yang paling bertakwa. Kemudian pertanyaannya siapa dimaksud dengan orang yang bertakwa?.
Di antaranya adalah ayat yang menyebutkan orang-orang yang bertakwa atau karakteristik orang yang bertakwa.Yang pertama adalah orang yang senantiasa menginfakkan hartanya atau menyisihkan sebagian hartanya baik saat lapang maupun sempit. Senantiasa menginfakkan sebagian harta telah menjadi kebiasaan yang tumbuh dan lahir karena adanya posisi takwa kepada Allah swt
Selanjutnya karakteristik orang yang bertakwa adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya .Ia marah karena sebuah perbuatan kezaliman terjadi pada dirinya tapi pada saat itu dia mampu mengekangnya.
Kemudian yang terakhir adalah orang-orang yang selalu memaafkan sesamanya meskipun pada saatnya dia begitu marah tetapi karena puasa yang telah dilakukannya membawa kepada posisi senantiasa memaafkan.
Allah swt memaafkan orang-orang yang berbuat zalim kepada diri kita adalah sesuatu yang sangat berat untuk kita lakukan tetapi itu adalah sesuatu yang sangat mulia di sisi Allah swt.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw ketika berada di tengah-tengah para sahabat beliau berkata: ” tidak lama lagi akan masuk seorang penghuni surga. Tentu saja ini membuat para sahabat bertanya-tanya kenapa bukan kami yang ditunjuk ,bukankah kami yang selalu bersama Rasulullah saw.
Kemudian datanglah seseorang yang mereka tidak begitu kenal ,masih asing bagi mereka para sahabat. Kemudian di hari selanjutnya kembali Rasulullah berkata akan datang seorang penghuni surga dan orang yang sama pada hari kemarin yang datang keesokan harinya seperti itu juga sampai tiga hari berturut-turut .Rasulullah kemudian menyampaikan kepada para sahabat tentang orang yang merupakan penghuni surga ini.
Hal ini membuat seorang sahabat yang bernama Amru bin Abdullah bin Amru bin Ash untuk mencari tahu siapa sesungguhnya orang tersebut dan amalan yang ia lakukan yang belum dilakukan sahabat sehingga orang ini disebut penghuni surga. Ia mengambil alasan untuk menginap di rumah orang ini untuk mencari tahu selama tiga malam berturut-turut ia berkesimpulan tidak ada amalan yang istimewa dibanding apa yang mereka telah lakukan ternyata setelah ditanya orang itu berkata yang kau lihat adalah sesuatu yang biasa-biasa saja tetapi mungkin engkau harus mengetahui bahwa aku tidak tidur kecuali telah memaafkan orang-orang yang telah berbuat kezaliman kepada saya dan sama sekali saya tidak pernah hasut tidak pernah iri terhadap kebaikan apa pun nikmat apa pun yang Allah berikan kepada saudaraku .
Abdullah kemudian mengatakan itulah yang membuatmu istimewa dan dikatakan oleh Rasulullah penghuni surga maka hadirin pemirsa sekalian marilah dengan puasa kita menjadikan diri kita mulia disisi Allah swt dengan senantiasa peduli kepada sesama, memperbaiki hubungan dengan sesama dan senantiasa memaafkan orang-orang yang telah berbuat zalim kepada kita.
Selengkapnya simak video dibawah ini…
Irfan Suba Raya

