Dr. KH. Syamsul Bahri Abd. Hamid, Lc., M.A.
Makassar,muisulsel.or.id –
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

Syariat Idul Adha menghidupkan kembali jejak penghambaan Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام dalam ketundukan total kepada Allah Swt. Oleh karena itu, Iduladha mengandung manfaat besar bagi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan peradaban umat Islam secara keseluruhan.²
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴾³
Terjemah:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kurban merupakan simbol penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah Swt.⁴
Idul Adha sebagai Momentum Ketakwaan
Manfaat terbesar Iduladha adalah menanamkan ketakwaan kepada Allah Swt. Syariat kurban mendidik seorang Muslim agar mendahulukan perintah Allah di atas hawa nafsu dan kecintaan dunia.⁵
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ﴾⁶
Terjemah:
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Ayat ini menegaskan bahwa inti Idul Adha bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan penyembelihan ego, kesombongan, cinta dunia, dan hawa nafsu demi meraih ketakwaan sejati.⁷
Idul Adha sebagai Pendidikan Keikhlasan
Kisah Nabi Ibrahim عليه السلام mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala bentuk kecintaan lainnya. Ketika Allah memerintahkan penyembelihan Nabi Ismail عليه السلام, Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan total tanpa keraguan.⁸
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ﴾⁹
Terjemah:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Kemudian Nabi Ismail عليه السلام menjawab:
﴿ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴾¹⁰
Terjemah:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Peristiwa ini menjadi pendidikan keikhlasan, kepatuhan, dan kesabaran bagi seluruh kaum Muslimin sepanjang zaman.¹¹
Idul Adha sebagai Syiar Persatuan Umat
Hari Raya Idul Adha mempertemukan kaum Muslimin dalam takbir, salat Id, kurban, dan kebersamaan sosial. Momentum ini memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menghidupkan rasa persaudaraan antarsesama Muslim.¹²
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»¹³
Terjemah: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
Dalam Idul Adha, orang kaya berbagi dengan fakir miskin, tetangga saling mengunjungi, dan masyarakat berkumpul dalam semangat ibadah. Hal ini memperkuat solidaritas sosial dalam kehidupan umat Islam.¹⁴
Idul Adha sebagai Pendidikan Kepedulian Sosial
Kurban mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain. Oleh karena itu, Iduladha menjadi momentum besar dalam menghidupkan kepedulian sosial dan membantu masyarakat miskin.¹⁵
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ﴾¹⁶
Terjemah:
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang sengsara lagi fakir.”
Ayat ini menunjukkan bahwa syariat kurban mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Bahkan banyak orang miskin yang jarang menikmati daging dapat merasakan kebahagiaan pada hari Iduladha.¹⁷
Idul Adha sebagai Penghapus Sifat Kikir
Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah sifat bakhil dan terlalu mencintai dunia. Kurban mendidik seorang Muslim agar terbiasa mengorbankan sebagian hartanya demi mencari rida Allah Swt.¹⁸
Imam al-Ghazālī رحمه الله menjelaskan bahwa sedekah dan kurban memiliki pengaruh besar dalam membersihkan jiwa dari penyakit cinta dunia dan ketergantungan berlebihan terhadap harta.¹⁹
Karena itu, orang yang berkurban sejatinya sedang melatih dirinya menjadi pribadi yang dermawan, ikhlas, dan peduli terhadap sesama.²⁰

Idul Adha sebagai Syiar Takbir dan Zikir
Hari-hari Iduladha dipenuhi dengan takbir, tahmid, dan zikir kepada Allah Swt. Syariat ini menghidupkan hati kaum Muslimin agar selalu mengingat kebesaran Allah.²¹
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾²²
Terjemah:
“Agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama Zulhijah.²³
Takbir Idul Adha menghidupkan suasana tauhid dan pengagungan kepada Allah di tengah kehidupan manusia yang sering disibukkan oleh urusan dunia.²⁴
Idul Adha sebagai Momentum Taubat
Iduladha juga menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak taubat dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. Hari-hari Zulhijah termasuk hari yang paling dicintai Allah untuk amal saleh.²⁵
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ»²⁶
Terjemah:
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Idul Adha dan hari-hari Zulhijah merupakan musim besar untuk memperbanyak ibadah, zikir, sedekah, puasa, dan taubat kepada Allah Swt.²⁷
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa manfaat besar Iduladha bagi setiap Muslim:
1. Idul Adha menanamkan ketakwaan dan penghambaan kepada Allah Swt.²⁸
2. Idul Adha mendidik keikhlasan, kesabaran, dan kepatuhan terhadap perintah Allah.²⁹
3. Idul Adha memperkuat persaudaraan dan persatuan umat Islam.³⁰
4. Idul Adha menghidupkan kepedulian sosial terhadap fakir miskin dan masyarakat lemah.³¹
5. Idul Adha melatih kaum Muslimin agar tidak terikat berlebihan dengan harta dunia.³²
6. Idul Adha menghidupkan syiar zikir, takbir, dan pengagungan kepada Allah Swt.³³
7. Idul Adha menjadi momentum besar untuk taubat dan memperbanyak amal saleh.³⁴
Dengan demikian, Idul Adha bukan sekadar hari raya penyembelihan hewan, melainkan madrasah ruhani yang mendidik manusia menuju ketakwaan, kepedulian, dan kesempurnaan penghambaan kepada Allah Swt.³⁵
والله أعلم بالصواب.
Catatan Kaki:
1. Wahbah al-Zuḥailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh (Damaskus: Dār al-Fikr, 2004), 3:597.
2. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 7:377.
3. QS. al-Kawṡar [108]: 2.
4. Al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 20:221.
5. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 4:89.
6. QS. al-Ḥajj [22]: 37.
7. Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Laṭā’if al-Ma‘ārif (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2004), 458.
8. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 7:24.
9. QS. al-Ṣāffāt [37]: 102.
10. QS. al-Ṣāffāt [37]: 102.
11. Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1999), 26:148.
12. Yūsuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Zakāh (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2006), 2:923.
13. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, hadis no. 481.
14. Wahbah al-Zuḥailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, 3:601.
15. Al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Zakāh, 2:924.
16. QS. al-Ḥajj [22]: 28.
17. Ibn ‘Āsyūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Tunisia: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1984), 17:252.
18. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 3:276.
19. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 3:276.
20. Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Laṭā’if al-Ma‘ārif, 462.
21. Al-Nawawī, al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadzdzab (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 8:39.
22. QS. al-Ḥajj [22]: 28.
23. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 5:414.
24. Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Laṭā’if al-Ma‘ārif, 470.
25. Al-Nawawī, al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadzdzab, 8:39.
26. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Īdain, hadis no. 969.
27. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H), 2:534.
28. QS. al-Ḥajj [22]: 37.
29. QS. al-Ṣāffāt [37]: 102.
30. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 481.
31. QS. al-Ḥajj [22]: 28.
32. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 3:276.
33. QS. al-Ḥajj [22]: 28.
34. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 969.
35. Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Laṭā’if al-Ma‘ārif, 470.
*Irfan Suba Raya*
