Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
Tidak ada pohon yang lahir dalam keadaan besar. Ia selalu bermula dari sebutir benih yang nyaris tak terlihat, terkubur dalam gelap, ditempa hujan, diterpa angin, dan berjuang dalam kesunyian sebelum akhirnya menembus permukaan bumi.
Dunia hanya menyaksikan kerindangannya, tetapi tidak pernah melihat perjuangan akarnya. Bukankah demikian pula perjalanan seorang laki-laki? Tidak ada suami yang lahir sebagai pemimpin keluarga yang bijaksana. Semua harus bertumbuh melalui musim-musim kehidupan, musim belajar menundukkan ego, musim memikul amanah, musim menguatkan iman, dan musim mengorbankan kepentingan diri demi kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.
Menjadi suami yang menawan bukanlah perjalanan memperindah penampilan, melainkan perjalanan menumbuhkan pohon kehidupan di dalam jiwa. Allah Swt. melukiskan perjalanan itu dengan perumpamaan yang begitu agung:
﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا﴾
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya menghunjam kuat, cabangnya menjulang ke langit, dan menghasilkan buah pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24–25).

Pohon yang kokoh selalu memiliki akar yang dalam. Begitu pula seorang suami. Semakin tinggi ia ingin dimuliakan Allah, semakin dalam ia harus menghunjamkan akar imannya. Sebab iman adalah fondasi yang tidak terlihat, tetapi menentukan kokoh atau rapuhnya seluruh bangunan kehidupan. Seorang ulama salaf berkata,
مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
“Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”
Maka, sebelum memimpin keluarga, seorang laki-laki harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri.
Ketika benih berubah menjadi tunas, di situlah ia paling rapuh. Demikian pula awal rumah tangga. Dua insan sedang belajar menerima kekurangan, mengalah tanpa merasa kalah, meminta maaf tanpa kehilangan harga diri, dan mencintai tanpa syarat yang berlebihan.
Banyak rumah tangga runtuh bukan karena badai yang besar, melainkan karena ego yang lebih besar daripada cinta. Rasulullah SAW.bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْل
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”
Kemuliaan seorang suami ternyata tidak diukur dari kerasnya suara, tetapi dari kelembutan akhlaknya di dalam rumah.
Seiring waktu, tunas itu menjelma menjadi batang yang kokoh. Batang tidak hidup untuk dirinya sendiri; ia memikul seluruh ranting, daun, bunga, dan buah. Begitulah seorang suami. Ia memikul amanah, melindungi keluarga, menguatkan ketika semua mulai lemah, dan tetap berdiri ketika badai datang. Rasulullah SAW.bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Seorang suami mungkin lelah, tetapi keluarganya tidak boleh kehilangan harapan. Ia mungkin menangis, tetapi doanya tidak boleh berhenti.
Ketika pohon semakin rindang, ia tidak menikmati buahnya sendiri. Burung-burung bersarang di dahannya, musafir berteduh di bawah naungannya, dan siapa pun merasakan manfaat kehadirannya.
Begitu pula seorang suami, Ia menjadi ayah, guru, sahabat, sekaligus teladan. Anak-anak mungkin lupa berapa besar penghasilan ayahnya, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana ayah memperlakukan ibunya, bagaimana ia bersabar dalam kesulitan, dan bagaimana ia mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata: النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ أَشْبَهُ مِنْهُمْ بِأَقْوَالِهِمْ
“Manusia lebih menyerupai perbuatannya daripada ucapannya.” Sebab anak-anak dibentuk bukan oleh banyaknya nasihat, melainkan oleh apa yang mereka saksikan setiap hari.
Akhirnya tibalah musim senja. Daun mulai gugur, batang mulai menua, dan ranting tak lagi sekuat dahulu. Namun justru pada saat itulah pohon menjadi tempat berteduh yang paling dirindukan.
Demikian pula seorang suami. Ketika rambut memutih dan langkah mulai melambat, pesonanya tidak lagi terletak pada wajah yang gagah, melainkan pada sejarah hidup yang ia tinggalkan, pada kesetiaan yang tidak pernah ia khianati, pada pengorbanan yang tak pernah ia hitung, pada doa-doa yang diam-diam ia panjatkan, dan pada akhlak yang hidup di dalam diri anak-anaknya.
Maka renungkanlah, kelak ketika kita telah kembali kepada Allah, apakah yang diwariskan hanyalah nama, ataukah akar iman, keteduhan akhlak, dan buah keteladanan yang terus tumbuh di hati keluarga?
Pada akhirnya, suami yang menawan bukanlah laki-laki yang paling banyak dipuji manusia, melainkan yang paling banyak menghadirkan ketenangan bagi keluarganya. Ia tidak hidup untuk dikagumi, tetapi untuk menaungi, tidak mengejar kemasyhuran, tetapi keberkahan. Sebagaimana pohon yang mengawali hidupnya sebagai benih yang tersembunyi lalu kembali menjadi bagian dari tanah, demikian pula seorang suami. Jasadnya kelak akan kembali ke bumi, tetapi akar imannya akan tetap menghunjam, batang pengorbanannya akan tetap dikenang, ranting kepemimpinannya akan terus menjangkau generasi, bunga kasih sayangnya akan terus mengharumkan ingatan, dan buah keteladanannya akan dipetik sepanjang zaman.
Itulah pesona seorang suami yang tidak pernah pudar oleh waktu, karena ia bertumbuh bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi jalan hadirnya rahmat Allah bagi keluarga dan generasi yang ditinggalkannya.
Karena Laki-laki hebat tidak dilahirkan untuk dikagumi, tetapi menjadi tempat untuk berteduh.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir.Munawir Kamaluddin*
