HIKMAH HALAQAH: Berjalan di Bumi dengan Rendah Hati

Prof. Dr. KH. Muh. Galib, M.A. (Waketum MUI Sulsel)

MAKASSAR — Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia. Allah mengetahui isi hati, niat, pikiran, serta berbagai hal yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Namun, ayat Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa hamba-hamba Allah yang mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya memiliki karakter yang tercermin dalam sikap dan perilaku mereka.

Salah satu karakter tersebut disebutkan dalam firman Allah SWT, “alladzina yamsyuna ‘alal ardhi hawnan”, yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.

Rendah hati bukan berarti seseorang harus merendahkan dirinya atau kehilangan harga diri. Rendah hati merupakan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri di hadapan Allah maupun sesama manusia.

Seseorang yang mendapatkan rahmat Allah tidak menjadikan kekayaan, jabatan, ilmu, popularitas, maupun kelebihan yang dimilikinya sebagai alasan untuk memandang rendah orang lain.

Ia boleh memiliki kedudukan tinggi, tetapi tidak tinggi hati. Ia boleh memiliki banyak harta, tetapi tidak menjadikan kekayaannya sebagai alasan untuk meremehkan orang lain. Ia juga boleh memiliki ilmu yang luas, tetapi tetap menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya merupakan karunia Allah SWT.

Rendah hati juga terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Ia tidak mudah menghina, meremehkan, atau merasa dirinya paling hebat. Sebaliknya, ia mampu menghargai sesama dan menjaga perkataan maupun perbuatannya.

Karakter tersebut menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi. Kesalehan juga harus terlihat dalam akhlak dan perilaku ketika seseorang berinteraksi dengan masyarakat.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan kelembutan, kesabaran, kepedulian, dan sikap menghargai sesama.

Karena itu, “yamsyuna ‘alal ardhi hawnan” bukan sekadar gambaran tentang cara berjalan, tetapi menggambarkan cara manusia menjalani kehidupannya dengan penuh kerendahan hati.

Pada akhirnya, manusia harus menyadari bahwa segala kelebihan yang dimilikinya hanyalah karunia dan amanah dari Allah SWT. Orang yang benar-benar memahami hal tersebut tidak akan mudah menyombongkan diri, karena ia tahu semua yang dimilikinya berasal dari Allah dan dapat kembali kepada-Nya kapan saja.

Selengkapnya, simak video di bawah ini.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.