Dunia Bergejolak, Pangdam Serukan Ulama Jaga Persatuan Bangsa

MAKASSAR — Di tengah gejolak geopolitik dunia yang semakin kompleks, persatuan dan ketahanan nasional menjadi kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Pesan tersebut mengemuka dalam sesi Muzakarah Musyawarah Daerah (Musda) IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan di Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu (22 Agustus 2026).

Muzakarah menghadirkan Mayjen TNI Bangun Nawoko, Pangdam XIV/Hasanuddin, dengan Prof Dr H Arifin Hamid sebagai pimpinan sidang.

Dalam pemaparannya, Pangdam menyoroti dinamika geopolitik global, mulai dari konflik Gaza, Iran, hingga perang Ukraina, yang menunjukkan semakin kuatnya persaingan kepentingan antarnegara.

Menurutnya, dunia masih dihadapkan pada realitas bahwa kekuatan menjadi salah satu penentu posisi sebuah negara. Negara yang kuat memiliki daya tawar, sementara negara yang lemah lebih mudah menghadapi tekanan dan kepentingan pihak lain.

Karena itu, Indonesia harus membangun kekuatan secara menyeluruh. Pertahanan nasional tidak hanya berbicara mengenai alutsista dan anggaran, tetapi juga persatuan, ketahanan ekonomi, kemandirian pangan, serta kekuatan masyarakat.

Indonesia, kata dia, memiliki posisi strategis dan sumber daya yang membuat banyak negara memiliki kepentingan terhadap NKRI. Karena itu, upaya melemahkan persatuan bangsa harus diwaspadai.

Dalam konteks tersebut, peran ulama dinilai sangat penting. Ulama diharapkan menjadi kekuatan moral yang terus menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah masyarakat.

Para ulama juga diharapkan terus menyampaikan kebenaran dalam setiap ruang dakwah, baik di masjid, kampung, pesantren maupun forum masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan perjuangan para pendahulu bangsa yang senantiasa mengedepankan persatuan dan kesatuan, bukan mempertajam perbedaan.

“Jangan sampai perbedaan justru menjadi pintu perpecahan,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam forum tersebut.

Muzakarah juga menyoroti peran TNI dalam mendampingi masyarakat melalui berbagai program pembangunan dan pemberdayaan.

Di antaranya ketahanan pangan, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), pembangunan jembatan, penyediaan sumur bor, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga berbagai program pembangunan lainnya.

Berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat masyarakat dari tingkat paling bawah. Sebab, ekonomi akan tumbuh kuat apabila fondasinya dibangun dengan baik dari desa dan masyarakat.

Pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan penyediaan sumber air bersih juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan negara secara langsung di tengah masyarakat yang membutuhkan.

Di hadapan para ulama dan peserta Musda IX MUI Sulsel, ditekankan pula pentingnya membangun karakter generasi muda. Tantangan bangsa tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lemahnya karakter, mudahnya masyarakat terprovokasi, serta menguatnya potensi perpecahan.

Karena itu, ulama diharapkan mengambil peran lebih besar dalam membangun karakter anak bangsa sekaligus memperkuat ukhuwah dan persatuan.

Pesan yang mengemuka dalam Muzakarah tersebut sederhana namun strategis: Indonesia harus kuat dari bawah.

Sebab, di tengah dunia yang semakin kompetitif, kekuatan Indonesia bukan hanya terletak pada pertahanannya, tetapi juga pada rakyat yang bersatu, ekonomi yang kuat, ketahanan pangan, dan ulama yang terus membimbing umat.

Muhammad Sulfadli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.