KM. Tashdieq Ulil Amri Ar (Anggota PKU MUI Sulsel)
Musyawarah Daerah IX MUI Sulsel kemarin berlangsung panjang, dari pagi sampai hampir tengah malam. Suasananya serius, penuh ide, dan banyak masukan kritis dari peserta. Saya ikut hadir, melihat langsung bagaimana ulama, tokoh masyarakat, dan pengurus MUI dari berbagai daerah berdebat, menyampaikan pandangan, lalu merumuskan arah kebijakan keumatan. Dari sekian banyak agenda, ada satu hal yang menurut saya paling penting: penambahan Konghucu dan kepercayaan lokal dalam bagian kebangsaan.
Langkah ini bukan sekadar tambahan administratif. Ini adalah terobosan yang memperluas makna Himayatul Ummah. Selama ini istilah itu hanya terlihat slogan. Tapi Musda IX memperlihatkan bahwa perlindungan harus meluas, mencakup semua warga bangsa yang beragama maupun berkepercayaan. Penambahan Konghucu dan kepercayaan lokal adalah tanda keterbukaan sekaligus keberanian MUI Sulsel untuk hadir sebagai perekat masyarakat.
Saya melihat keputusan ini sebagai tafsir nyata atas semangat kebangsaan. Himayatul Ummah tidak lagi hanya menjaga internal umat, tapi juga ikut merawat harmoni sosial bangsa. Langkah ini terasa penting karena ancaman intoleransi dan radikalisme masih nyata.
Teringat kata bijak sederhana sempat muncul: “Kalau ingin jadi payung, jangan pilih siapa yang boleh berteduh.” Ungkapan itu singkat, tapi langsung mengingatkan bahwa perlindungan tidak boleh diskriminatif. Payung yang dimaksud adalah MUI sebagai lembaga keumatan. Jika ia benar-benar menjadi payung, maka siapa pun yang berada di bawah hujan berhak ikut terlindungi. Selentingan ini mengisyaratkan bahwa keputusan Musda bukan hanya soal dokumen, melainkan soal keberanian membuka ruang bagi semua. Kalau kata kiyai Syamsul Bahri, MUI Kerja cerdas, cermat dan cepat.

Keputusan seperti ini membuka jalan bagi percakapan lintas iman yang lebih luas. Selama ini, dialog antaragama sering terbatas pada agama besar. Dengan memasukkan Konghucu dan kepercayaan lokal, MUI Sulsel memberi pengakuan kepada mereka yang jarang disebut. Kepercayaan lokal sendiri adalah bagian dari identitas bangsa. Ia hidup dalam tradisi, ritual, dan kearifan masyarakat. Merangkul kepercayaan lokal berarti meneguhkan akar budaya sekaligus menghormati warisan leluhur. Ulama Sulsel tidak hanya menjaga teks, tapi juga menafsirkan realitas sosial. Himayatul Ummah dipahami sebagai perlindungan terhadap manusia dan kebudayaan, bukan semata perlindungan terhadap doktrin.
Musda IX MUI Sulsel juga memperlihatkan peran ulama sebagai penafsir kebangsaan. Penambahan Konghucu dan kepercayaan lokal adalah tafsir kebangsaan yang menekankan persatuan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap pluralitas. Ulama Sulsel ingin MUI menjadi jembatan, bukan tembok. Mereka ingin MUI hadir sebagai perekat bangsa, bukan sekadar lembaga fatwa. Himayatul Ummah kini bermakna melindungi semua umat manusia dari ancaman intoleransi dan perpecahan.
Momentum ini bisa dibaca sebagai agenda kebangsaan. Perlindungan umat kini berarti perlindungan bangsa. Ulama Sulsel menunjukkan bahwa menjaga keberagaman adalah bagian dari ibadah, bagian dari khidmat keagamaan. Keputusan ini dapat menjadi inspirasi bagi MUI di daerah lain. Himayatul Ummah harus dipahami sebagai penjagaan terhadap seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam. Dengan begitu, MUI akan benar-benar menjadi rumah besar bagi bangsa.
Saya yakin, Musda IX MUI Sulsel akan dikenang sebagai momentum penting dalam sejarah kebangsaan. Di tengah riuhnya perbedaan, langkah ini adalah cahaya yang menuntun masyarakat menuju persaudaraan sejati. Himayatul Ummah yang inklusif adalah jawaban atas tantangan zaman, sekaligus penegasan bahwa ulama berdiri di garis depan menjaga harmoni sosial.
Saat meninggalkan ruangan Musda, saya membawa pulang satu pesan: ulama Sulsel telah menunjukkan bahwa merawat harmoni sosial adalah bagian dari khidmat keagamaan. Himayatul Ummah kini bermakna melindungi semua umat manusia dari ancaman intoleransi, radikalisme, dan perpecahan. Dan keputusan ini bukan hanya relevan bagi Sulawesi Selatan, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.
