Makassar, muisulsel.or.id — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menegaskan bahwa MUI harus mampu menjadi rumah besar umat yang mempersatukan berbagai organisasi Islam dan elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan umat dan bangsa.
Hal itu disampaikan Buya Amirsyah Tambunan dalam sambutannya pada Musyawarah Daerah (Musda) IX MUI Sulawesi Selatan di Hotel Four Points Makassar, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, kekuatan MUI harus dibangun di atas tiga prinsip ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama Muslim; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa; dan ukhuwah insaniyah, persaudaraan sesama manusia.
“Tiga ukhuwah ini menjadi bagian dari janji diri para ulama,” ujarnya.
Buya Amirsyah menekankan, MUI bukan milik kelompok atau organisasi tertentu. MUI harus menjadi tenda besar yang mampu merangkul seluruh organisasi yang memiliki visi dan misi sejalan dalam membangun umat.
“MUI bukanlah milik satu organisasi. MUI itu rumah besar umat yang harus mampu mempersatukan semua organisasi yang memiliki visi-misi yang sama dengan Majelis Ulama Indonesia,” tegasnya.
Ia menyebut, kerja strategis MUI adalah khidmat umat, yakni melayani kepentingan umat, sekaligus membangun kemitraan dengan pemerintah dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Menurutnya, MUI tidak boleh berhenti pada persoalan kepemimpinan dan simbol kelembagaan. Yang lebih penting adalah membuktikan secara nyata bahwa MUI mampu menjadi wadah bersama.
“Jangan sekadar simbol. Secara kelembagaan, kita harus membuktikan bahwa MUI ini adalah rumah besar yang kita berbagi bersama,” katanya.
Buya Amirsyah juga mengingatkan pentingnya mengendalikan ego organisasi. Menurutnya, membangun kebersamaan sering kali lebih sulit dibandingkan sekadar menikmati hasil bersama.
Ia kemudian mengibaratkan MUI seperti sampan yang sedang berlayar di tengah lautan. Selama nahkoda dan seluruh penumpang memiliki arah yang sama, perjalanan akan berjalan baik. Namun, jika mulai terjadi perbedaan kepentingan, saling menyindir dan mempertanyakan, maka sampan tersebut berpotensi kehilangan arah bahkan terbalik.
“Ketika ombak mulai datang, antara rombongan dan nahkoda sudah mulai berbeda pendapat, saling sindir, saling mempertanyakan, maka lama-lama sampan akan terbalik. Mudah-mudahan tidak akan,” tuturnya.
Ia berharap Musda IX MUI Sulsel tidak hanya menghasilkan struktur kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan komitmen bersama untuk memperkuat peran MUI dalam menjawab persoalan umat dan bangsa.
“Marilah kita musyawarahkan bersama untuk menjadikan Majelis Ulama sebagai bukti, bukan sekadar kata dan bukan sekadar simbol,” pungkasnya.
Buya Amirsyah turut menyampaikan apresiasi kepada para kepala daerah di Sulawesi Selatan yang selama ini memberikan perhatian terhadap keberadaan dan program MUI di tingkat kabupaten dan kota.
Ia berharap dukungan tersebut terus diperkuat sehingga MUI di seluruh tingkatan dapat menjalankan fungsi pelayanan umat secara optimal.
*Irfan Suba Raya*
