Prof Dr H Munawir Kamaluddin, SH MA MH. (Pengurus MUI Sulsel, Komisi Hukum dan HAM)
Makassar, muisulsel.or.id – Ilmu merupakan sebuah keharusan yang dimiliki oleh setiap manusia yang lahir di muka bumi. Ada empat tahapan Ilmu bagi umat Islam
أول العلم الصمت، والثاني الاستماع له وحفظه، والثالث العمل به، والرابع نشره وتعليمه
“Ilmu yang pertama adalah diam,
yang kedua adalah mendengarkan dan menghafalkannya, yang ketiga adalah mengamalkannya, dan yang keempat adalah menyebarkan dan mengajarkannya. (Sufyan As-Tsaury)
Penjelasan.
1. Diam (الصمت):
– Pentingnya Refleksi: Diam bukan hanya sekadar keheningan fisik, tetapi refleksi mendalam dalam diri. Hal ini memberikan waktu untuk memproses informasi dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.
– Penahanan diri sebelum berbicara: Mendorong untuk menahan diri sejenak sebelum mengungkapkan pikiran. Ini mencegah kesalahan dan meningkatkan kualitas komunikasi.
2. Mendengarkan dan Menghafal (الاستماع وحفظه):
– Aktif Mendengarkan: Memerlukan ketekunan dalam mendengarkan dengan penuh perhatian, bukan sekadar sebagai aktivitas pasif.
– Hafalan sebagai Penguatan: Hafalan bukan hanya sebagai ingatan mekanis, tetapi sebagai sarana penguatan pengetahuan yang memudahkan penyampaian kembali.
3. Mengamalkannya (العمل به):
– Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari: Ilmu sejati tercermin melalui perubahan perilaku dan tindakan positif. Mengamalkan ilmu adalah kunci untuk mewujudkan perubahan positif dalam diri.
– Transformasi Pribadi: Mengaplikasikan ilmu membawa transformasi pribadi, mengubah pemahaman menjadi tindakan nyata.
4. Menyebarkan dan Mengajarkannya (نشره وتعليمه):
– Berbagi dengan Kejujuran: Proses berbagi ilmu melibatkan transparansi dan kejujuran. Memberikan ilmu dengan niat suci untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
– Penyampaian yang Efektif: Menyebarkan ilmu tidak hanya tentang memberikan informasi, tetapi juga melibatkan kemampuan menyampaikannya dengan cara yang dapat dipahami dan diaplikasikan.
Pesan Hikmah Sufyan As-Tsauri ini mengajarkan bahwa setiap tahapan sebagai perjalanan bermakna. Dari introspeksi diri hingga berkontribusi pada masyarakat melalui ilmu yang dimiliki, setiap langkah memainkan peran khusus dalam membentuk individu yang bijaksana dan berdampak positif bagi kehidupan.
Kontributor: Nur Abdal Patta
