Prof. Dr. KH. Muh. Galib, M.A. (Wakil Ketua Umum MUI Sulsel)
Makassar, muisulsel.or.id – Dalam kajian akidah Islam, ismah merupakan salah satu sifat istimewa yang dianugerahkan Allah SWT kepada para nabi dan rasul. Ismah berarti penjagaan Allah SWT terhadap para utusan-Nya sehingga mereka terpelihara dari dosa besar, kesalahan dalam menyampaikan wahyu, serta segala sesuatu yang dapat merusak kehormatan dan kepercayaan umat kepada mereka. Penjagaan ini menjadi jaminan bahwa seluruh risalah yang dibawa para nabi benar-benar bersumber dari Allah SWT.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa para nabi adalah manusia yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Mereka merasakan lapar, haus, sedih, bahagia, dan menghadapi berbagai ujian kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Namun, apabila terjadi kekeliruan yang bersifat manusiawi, Allah SWT segera memberikan bimbingan dan meluruskan mereka. Karena itu, para nabi tetap menjadi teladan yang sempurna dalam menjalankan amanah kerasulan.
Di antara seluruh nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempati kedudukan yang paling mulia dan paling sempurna. Beliau bukan hanya menerima wahyu sebagai petunjuk hidup, tetapi juga menampilkan akhlak yang agung dalam setiap aspek kehidupan. Allah SWT memuji beliau dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)
Kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tercermin dalam sifat jujur (ṣidq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan kebenaran (tabligh), dan cerdas (fathanah). Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, sabar, rendah hati, pemaaf, dan adil terhadap siapa pun. Bahkan jauh sebelum diangkat menjadi rasul, masyarakat Makkah telah memberikan gelar Al-Amin, yakni orang yang terpercaya. Seluruh sifat mulia tersebut menjadi bukti nyata bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.
Memahami konsep ismah tidak hanya memperkokoh keyakinan terhadap kemuliaan para nabi dan rasul, tetapi juga mengajak setiap Muslim untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan beliau sebagai panutan berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan keadilan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa.
Dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW, diharapkan setiap Muslim mampu membentuk pribadi yang berakhlak mulia, membawa manfaat bagi sesama, serta menjadi bagian dari terwujudnya masyarakat yang damai, adil, dan diridhai Allah SWT.
Selengkapnya simak video di bawah ini
*Irfan Suba Raya*
