KH Syamsul Bahri: Islam Agama Rahmat, Tolak Fanatisme dan Ekstremisme

Makassar, muisulsel.or.id – Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sulawesi Selatan, Dr. KH. Syamsul Bahri Abd. Hamid, Lc., MA, menegaskan kembali bahwa Islam merupakan agama rahmat yang menjunjung kasih sayang dan menolak segala bentuk fanatisme maupun ekstremisme. Pesan itu ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Kubah 99 Asmaul Husna, Center Point of Indonesia (CPI) Makassar, 28 November 2025.

Dalam khutbahnya, KH Syamsul Bahri menekankan bahwa misi utama Nabi Muhammad ﷺ adalah membawa rahmat bagi seluruh alam. Ketakwaan, kata dia, tidak terwujud melalui sikap keras atau kekerasan, melainkan melalui kelembutan, ketenangan jiwa, dan kejujuran.

“Islam datang untuk menyelamatkan kaum lemah, menguatkan yang miskin, dan menegakkan keadilan. Bukan untuk menjadi alat perpecahan atau fanatisme,” ujarnya.

Menolak Fanatisme Mazhab

Ia mengingatkan jemaah akan bahaya fanatisme mazhab. Menurut KH Syamsul Bahri, perbedaan pendapat ulama merupakan kekayaan intelektual yang semestinya melahirkan sikap saling menghormati.

“Para ulama sejak dahulu berbeda pendapat tanpa saling menyesatkan. Yang menyempitkan rahmat Allah hanya karena perbedaan mazhab, itulah yang keliru memahami agama,” jelasnya.

Ekstremisme Bukan Bagian dari Iman

KH Syamsul Bahri juga mengutip sabda Nabi ﷺ, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan,” sebagai peringatan bahwa sikap ekstrem justru merusak citra Islam dan menghambat dakwah.

“Rasulullah tidak memilih kekerasan ketika pintu kelembutan masih terbuka. Dakwah tidak akan berhasil jika dibangun dengan kekasaran,” tegasnya.

Sorotan Fenomena Keagamaan Kontemporer

Dalam konteks kekinian, ia menyoroti sejumlah perilaku keagamaan yang memicu kegaduhan, seperti mempersulit persoalan khilafiyah, mudah mengkafirkan di media sosial, fanatisme kelompok, hingga gaya dakwah yang kasar.

Ia mengajak umat Islam kembali pada prinsip rahmat dan jalan tengah (wasathiyah), menghormati perbedaan ijtihad, menyerahkan persoalan agama kepada ahli ilmu, serta mengedepankan akhlak dalam berdakwah.

KH Syamsul Bahri menutup khutbah dengan doa agar umat Islam dijauhkan dari fanatisme dan ekstremisme, serta dipersatukan di atas kebenaran dan keadilan. Dalam kesempatan itu hadir pula para santri Pondok Pesantren Alam Imam Al-Haramaini Al-Juwaeniy, pesantren yang dipimpinnya.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.