Dr. Idris Parakkasi (Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sulsel dan Konsultan Ekonomi dan Keuangan Islam)
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: “Jabatan akan membuat pemegangnya lupa pada dirinya sendiri. Maka hendaklah ia selalu ingat kepada Allah.Barangsiapa yang merasa besar karena jabatannya, maka kecillah ia di mata Allah (Ali bin Abi Thalib)
إِنَّ الْوِلَايَةَ تُذْهِبُ الْقَلْبَ، فَلْيَتَعَاهَدِ الْعَبْدُ رَبَّهُ
Jabatan tidak membuatmu mulia, justru dialah yang harus kauangkat dengan kemuliaan akhlakmu. Orang yang angkuh karena jabatannya ibarat berdiri di atas bukit pasir, semakin tinggi, semakin rentan runtuh.
Bukanlah pemimpin yang sebenarnya orang yang menuntuk penghormatan, tetapi mereka yang menghormati orang lain. Jangan lupa dari mana kau datang. Jabatan boleh membawamu ke puncak, tetapi akar kerendahan hatilah yang menahanmu dari jurang kehancuran.

Pohon yang berbuah lebat selalu merunduk, manusia yang berilmu dan berkuasa sejati akan rendah hati.Jabatan adalah seragam sementara yang kau kenakan sebentar. Jangan sampai ia membuatmu lupa pada jati diri yang sesungguhnya.
Pujian karena jabatan bagaikan embun pagi, indah di pagi hari, tetapi menguap ketika matahari terik.Rakyat tidak akan ingat berapa tinggi jabatanmu, tetapi mereka akan selalu ingat seberapa dalam kau menyentuh hati mereka.
Keagungan seorang pemimpin bukan diukur dari bagaimana dia dihormati, tetapi dari bagaimana dia menghormati yang paling lemah.
Kursi kekuasaan bisa menjadi panas jika diduduki dengan kesombongan, tetapi sejuk jika diisi dengan kerendahan hati
Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah, dan jabatan adalah amanah. Di hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim)
Irfan Suba Raya
