Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Betapa indah ketika ulama dan umara duduk bersama, bermusyawarah demi kemaslahatan umat. Inilah yang baru saja tergambar dalam pertemuan Bapak Presiden Prabowo Subianto hafidzahullah dengan para pimpinan Ormas Islam Indonesia, sebuah ikhtiar mulia mencari solusi kebangsaan.
Ulama ibarat hati bangsa, tempat keluarnya nasihat penuh hikmah. Umara adalah tangan yang mengeksekusi kebijakan. Jika hati dan tangan bekerja seirama, lahirlah keberkahan. Sebaliknya, jika umara meremehkan ulama, negeri akan kehilangan ruh moralitasnya. Allah ta’ala berfirman
وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.'” (QS. Ali Imran: 187).
Ulama tidak hanya memberi nasihat, tapi juga memikul amanah tabligh dan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu, mendengar masukan ulama adalah bagian dari menjaga perjanjian Ilahi.
إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud).
Sebagai kontribusi ulama dalam mengatasi masalah kebangsaan, beberapa pernyataan penting lahir dari musyawarah tersebut:
1. Menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban demonstrasi, baik yang wafat, terluka, maupun terdampak secara ekonomi.
2. Menyerukan untuk melakukan introspeksi moral dan gaya hidup di lingkungan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan para pemimpin politik lainnya.
3. Mendesak Presiden untuk mengambil tindakan tegas terhadap setiap pelaku pelanggaran, baik aparat maupun pelaku vandalisme.
4. Mengusulkan perbaikan kebijakan ekonomi yang dianggap memberatkan rakyat, termasuk masalah pajak, lapangan kerja, dan pemberantasan korupsi.
5. Mendorong evaluasi komunikasi publik agar pemerintah lebih responsif terhadap aspirasi rakyat.
6. Meminta evaluasi penanganan keamanan, terutama saat menghadapi unjuk rasa.
7. Menekankan penghormatan terhadap penyampaian aspirasi rakyat sebagai hak konstitusional.
8. Menguatkan peran keluarga sebagai pilar bangsa, terutama perlindungan bagi perempuan, anak, dan disabilitas.
Inilah wujud nyata peran ulama dalam mengawal negeri, agar tetap berada di rel keadilan dan rahmat bagi seluruh rakyatnya.
Allah ta’ala berfirman
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلۡقُلُوبِ
Artinya: “Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj: 32).
Menghargai ulama adalah bagian dari mengagungkan syiar Allah ta’ala. Dengan itu, negeri akan dirahmati, keadilan ditegakkan, dan rakyat dilindungi. Tetapi jika ulama diremehkan, umat akan kehilangan arah, moralitas hancur, dan negara pun terancam porak-poranda.
Karena itu, pepatah Arab penuh hikmah dahulu mengingatkan
لَوْلَا اللهُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ
Artinya: “Seandainya bukan karena Allah ta’ala kemudian ulama, niscaya manusia seperti hewan.”
Mereka adalah penjaga agama, pengawal akhlak, dan pengarah umara agar tidak terjebak dalam kesewenang-wenangan. Jika ulama dihormati, aspirasi rakyat didengar, dan keadilan ditegakkan, maka akan terwujud negeri yang dicita-citakan
بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ
Artinya: “Negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)
Inilah jalan yang akan membawa Indonesia menuju keberkahan, sinergi ulama dan umara, kepemimpinan yang adil, serta rakyat yang menjaga persaudaraan.
Oleh karena itu, menghormati ulama adalah kunci keberkahan bangsa, sebab merekalah penjaga agama, pengawal akhlak, dan penuntun para pemimpin agar tidak terjebak dalam kesewenang-wenangan. Karena jika mereka diremehkan, niscaya manusia akan hidup seperti hewan. Maka jelas, jika ulama dijunjung tinggi dan dijadikan mitra sejati oleh pemimpin, rakyat akan terlindungi, hukum ditegakkan dengan adil, dan negeri dipenuhi rahmat Allah ta’ala, sebaliknya bila ulama diremehkan, umat akan kehilangan arah, moral bangsa runtuh, dan negara pun terancam porak-poranda. Indonesia hanya akan menemukan jalan keberkahannya bila sinergi ulama dan umara ditegakkan, kepemimpinan dijalankan dengan amanah, dan rakyat bersatu menjaga persaudaraan, sehingga terwujud negeri yang diridhai Allah ta’ala, negeri yang maju, adil, makmur, dan penuh rahmat.
اللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَ قُلُوبِ وُلَاةِ أُمُورِنَا وَعُلَمَائِنَا عَلَى الْحَقِّ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِرَحْمَتِكَ وَبَرَكَتِكَ عَلَى بِلَادِنَا، وَاحْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُورٌ.
Artinya: “Ya Allah, satukanlah hati para pemimpin kami dan ulama kami di atas kebenaran. Jadikanlah mereka sebab turunnya rahmat dan keberkahanMu atas negeri kami. Jagalah Indonesia dan jadikanlah ia sebagai negeri yang aman, tenteram, negeri yang baik, dan (mendapat ampunan dari)Mu, Tuhan Yang Maha Pengampun.” Aamiin..
Irfan Suba Raya
