Makassar, muisulsel.or.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama lintas agama dalam menjaga kerukunan dan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Sekretaris Umum MUI Sulsel, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., mengatakan organisasi keagamaan dan pemerintah tidak semestinya dipandang sebagai pihak yang berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, seluruh unsur harus saling mendukung dalam merawat nilai-nilai kerukunan umat beragama.
“Organisasi tidak boleh kita pandang sebagai sesuatu yang terpisah. Kita harus saling mendukung. Pemerintah dan organisasi keagamaan harus bersama-sama merawat nilai kerukunan, termasuk kerukunan antarumat beragama,” ujar Prof Muammar.
Ia menjelaskan, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai program MUI Sulsel, salah satunya melalui Komisi Hubungan Antar Umat Beragama (HAUB) yang memiliki perhatian terhadap persoalan kerukunan.
Dari komitmen tersebut kemudian lahir Forum Kemanusiaan Lintas Agama (FKLA) Sulsel sebagai wadah memperkuat kolaborasi kemanusiaan lintas agama. FKLA aktif menggelar berbagai kegiatan bersama umat beragama lain, seperti bakti sosial dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

Prof Muammar menegaskan, keberadaan FKLA tidak dimaksudkan untuk berhadapan ataupun mengambil peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Sebaliknya, kedua forum tersebut dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat.
“Tidak ada perbedaan antara forum lintas kemanusiaan ini dengan forum kerukunan umat beragama. Tidak saling bertentangan dan tidak saling mengganggu. Justru memberikan dukungan,” jelasnya dalam Podcast MUI Update, Senin, 11 Agustus 2026.
Ia menambahkan, setiap kegiatan yang bertujuan memperkuat kerukunan dan kemanusiaan merupakan kepentingan bersama. Karena itu, sinergi MUI, FKUB, FKLA, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat perlu terus diperkuat.
“Begitu juga kegiatan MUI yang mendukung semua kegiatan kemanusiaan, itu juga menjadi bagian dari program bersama,” pungkasnya.
*Irfan Suba Raya*
