Makassar, muisulsel.or.id — Di tengah kecenderungan manusia meninggikan diri dengan jabatan, harta, gelar akademik, dan popularitas, Islam justru menetapkan takwa sebagai ukuran kemuliaan yang hakiki. Pesan ini disampaikan Dr. KH. Syamsul Bahri Abd. Hamid, Lc., M.A. dalam Khutbah Jumat ke-25 di Masjid Raya Makassar, Jumat (23/01/2016).
Dalam khutbahnya, sekertaris komisi fatwa MUI Sulsel ini menegaskan bahwa taqwa bukan kesempurnaan malaikat, melainkan kesungguhan manusia untuk menaati Allah sesuai kemampuannya. Hal ini merujuk pada firman Allah Ta‘ala:
نصّ الآية:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”
Namun Allah juga menegaskan batas kemampuan manusia:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Artinya:“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa taqwa adalah proses jatuh dan bangkit, salah lalu kembali, serta terus memperbaiki diri.
Ia menekankan bahwa taqwa tidak hanya diuji dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan digital. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian.”

KH. Syamsul Bahri menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan atau pengaruh, melainkan oleh kualitas takwanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَتْقَاهُمْ
Artinya:“Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Yang paling bertakwa.”
Dalam khutbahnya, jamaah juga diingatkan bahwa dunia adalah ujian, bukan tujuan akhir. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
Artinya:“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat.”
Menurutnya, jabatan, harta, dan kekuasaan akan menjadi pintu kezaliman jika tidak dikendalikan oleh taqwa. Karena itu Nabi ﷺ mengingatkan:
فَاتَّقُوا الدُّنْيَا
Artinya:“Maka bertakwalah terhadap dunia.”
Ia menegaskan bahwa taqwa bukan menjauh dari dunia, tetapi menguasai diri di dalamnya: bekerja tanpa menipu, berdagang tanpa manipulasi, berpolitik tanpa kebohongan, dan bermedia tanpa merusak kehormatan orang lain.
Dalam khutbah tersebut juga disampaikan janji Allah bagi orang-orang yang bertakwa:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Menutup khutbah, KH. Syamsul Bahri mengingatkan pesan Rasulullah ﷺ dalam khutbah perpisahan di Padang Arafah:
نصّ الحديث
اتَّقُ
وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ
وَصُومُوا شَهْرَكُمْ
وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ
وَأَطِيعُوا أُمَرَاءَكُمْ
تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ
Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah, dirikanlah shalat lima waktu, berpuasalah di bulan kalian, tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian masuk surga Tuhan kalian.”
Menurutnya, taqwa adalah fondasi peradaban. Jika taqwa runtuh, ibadah kehilangan ruh dan kehidupan sosial kehilangan arah.
“Taqwa adalah rasa diawasi saat sendirian, kejujuran saat tak terlihat, dan keberanian menolak dosa saat mampu melakukannya,” pungkasnya.
*Irfan Suba Raya*
