Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Ada musim-musim dalam hidup yang tak terulang dua kali. Ia datang diam-diam seperti angin lembut yang menyentuh wajah, namun pergi secepat cahaya yang tak bisa kau kejar. Banyak mata memandangnya, tapi tak semua hati mampu merasakannya. Hanya jiwa-jiwa terjaga yang benar-benar bersiap dengan kesadaran, bukan sekadar rutinitas, tapi dengan iman yang menyala.
Salah satu musim itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hari-hari yang Allah agungkan, yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam puji, dan yang generasi salaf umat ini manfaatkan dengan sepenuh jiwa dan raga.
Jika kita bertanya, bagaimana para tabi’in, generasi mulia setelah sahabat, menyambut datangnya Dzulhijjah, maka jawabannya bukan sekadar dengan pengingat di kalender atau pesan broadcast motivasi. Mereka menyambutnya dengan getaran iman, dengan air mata taubat, dan dengan amal shalih yang membuncah.
كانوا يعظمون العشر كتعظيم رمضان
Artinya: “Mereka (para salaf) mengagungkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagaimana mereka mengagungkan bulan Ramadhan.” (Ibn Rajab, lathaif al-ma’arif).

Bagi para tabi’in, terbitnya hilal Dzulhijjah bukan sekadar pergantian bulan, tapi isyarat ilahi yang menggugah hati. Seakan-akan langit memanggil mereka dengan seruan lembut namun kuat: “Wahai jiwa-jiwa yang merindu pahala, inilah musimnya. Wahai pencari surga, inilah hari-hari terbaik di dunia,” bukan hanya mata mereka yang menangkap cahaya hilal, tapi hati mereka yang menyala, bersiap menyambut hari-hari agung dengan amal yang tak biasa.
Sosok seperti Mujahid rahimahullah, murid utama Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu, menuturkan
كنت إذا دخلت العشر اجتهدت في العبادة كما لا أجتهد في غيرها
Artinya: “Jika sepuluh hari Dzulhijjah telah masuk, aku bersungguh-sungguh dalam ibadah melebihi hari-hari lainnya.”
Mereka mengganti rutinitas biasa dengan kesibukan luar biasa. Mereka memperbanyak puasa, memperpanjang qiyamullail, memperbanyak dzikir dan takbir, serta menjauhi kesia-siaan dunia.
Tak ada hari-hari yang lebih mereka cintai untuk berpuasa selain hari-hari ini. Mereka berlomba mengisi 9 hari pertama dengan puasa, menghidupkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam
ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيهن من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة
Artinya: “Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari Dzulhijjah. Puasa pada setiap harinya setara dengan puasa setahun.” (HR. Al-Bayhaqi, dihasankan oleh Al-Albani).
Bagi para tabi’in, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses penyucian jiwa, pengekangan hawa nafsu, dan suntikan kekuatan ruhani yang mendorong mereka terbang lebih tinggi menuju ridha Ilahi.
Dan ketika malam menjelang, bukan kasur empuk yang mereka cari, tapi keheningan sajadah. Mereka berdiri dalam gelap, menangis dalam munajat, dan melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan hati yang penuh harap, seolah setiap bacaan adalah ketukan lembut di pintu surga.
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْر
Artinya: “Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2).
bukan hanya mereka hafal, tapi mereka hidup di dalamnya. Ibn Katsir menyebutkan
هي عشر ذي الحجة على الصحيح
Artinya: “Yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah menurut pendapat yang paling benar.”
Dalam sepuluh malam itu, tangis para tabi’in tak hanya membasahi sajadah mereka, tapi juga menyuburkan iman di dada-dada mereka.
Tabi’in seperti Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair rahimahumallah menjadikan sepuluh hari Dzulhijjah sebagai medan dzikir yang hidup. Takbir dan tahmid mereka menggema, bukan hanya di mihrab dan masjid, tapi hingga ke pasar-pasar dan jalanan ramai. Suasana yang bagi banyak orang penuh hiruk-pikuk dunia, bagi mereka justru menjadi panggung pengagungan kepada Allah. Hati mereka seakan tersambung langsung ke langit, dan lisan mereka tak pernah letih menyebut namaNya. Di tengah dunia yang riuh, mereka hadir sebagai pengingat bahwa dzikir bukan hanya ibadah sunyi, tapi cahaya yang menyinari kehidupan.
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi nyala semangat mereka
فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
Artinya: “Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, takbir, dan tahmid.”
(HR. Ahmad, dishahihkan oleh Ahmad Syakir)
Mereka tahu bahwa dzikir adalah cahaya yang membasahi jiwa, dan takbir adalah gema ketundukan di tengah hiruk-pikuk dunia.
Hari ini, kita hidup di era digital, semua ada di genggaman kita, informasi, hiburan, bahkan dosa. Tapi semangat para tabi’in tak pernah redup walau dunia ada di hadapan mereka. Mereka hidup tanpa teknologi, tapi hati mereka tersambung langsung ke langit.
Kita, sebaliknya, seringkali dikelilingi oleh kemudahan, tapi hati kita tertambat ke dunia.
Kini saatnya meneladani mereka. Bukan sekadar dengan meniru pakaian atau gaya hidup mereka saja, tapi dengan meniru semangat mereka dalam menyambut musim amal. Jadikan sepuluh hari ini sebagai momen transformasi, yaitu dengan berusaha melaksanakan puasa sunnah bukan hanya sekadar dari menahan makanan, tapi dari segala keburukan yang biasa kita konsumsi dari layar, jika mengusahakan Qiyam bukan hanya sekadar dengan niat tentang bangun malam, tapi tentang bangkit dari kelalaian, serta mendawamkan dzikir bukan hanya sekadar suara di lisan, tapi kebutuhan untuk menghidupkan hati.
Dzulhijjah telah datang. Ia mengetuk pintu-pintu jiwa. Ia membawa hadiah besar dari Allah bagi siapa pun yang bersedia menyambutnya.
وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ
Artinya: “Dan amalan-amalan yang kekal lagi shalih itu lebih baik di sisi Rabbmu…” (QS. Maryam: 76).
Maka jangan biarkan Dzulhijjah kali ini berlalu biasa-biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita jadikan berusaha dan mengupayakan aktivitas atau minimal mendekati semangat dalam amalam seperti tabi’in meski lahir di era digital.
Karena langit masih terbuka untuk doa, dan pintu-pintu pahala belum tertutup bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا فِي عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ نَصِيبًا مِنَ الصِّيَامِ، وَنُورًا فِي القِيَامِ، وَحَيَاةً فِي الذِّكْرِ، وَقُبُولًا يَبْقَى إِلَى يَوْمِ اللِّقَاءِ.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah bagi kami di sepuluh hari Dzulhijjah ini bagian dari puasa, cahaya dalam qiyam (shalat malam), kehidupan dalam dzikir, dan penerimaan yang kekal hingga hari perjumpaan denganMu.” Aamiin…
Irfan Suba Raya
