Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Kedisiplinan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya.Ia harus ditanam, dipupuk, dan dijaga, seperti tanaman yang tumbuh perlahan namun kokoh berakar. Dalam dunia yang penuh dengan gangguan, godaan kemalasan, dan budaya instan, kedisiplinan menjadi semacam perlawanan sunyi terhadap runtuhnya integritas diri.
Kesuksesan, baik dunia maupun akhirat, sangat erat kaitannya dengan kedisiplinan. Tidak ada prestasi besar tanpa komitmen kecil yang dijaga setiap hari. Orang sukses bukanlah mereka yang selalu termotivasi, tapi mereka yang tetap bergerak meski lelah, tetap bangkit meski gagal, dan tetap taat pada prinsip saat yang lain menyerah pada kenyamanan.
Disiplin diri adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Ia bukan sekadar soal manajemen waktu atau menyelesaikan tugas tepat waktu, melainkan kemampuan untuk tetap setia pada nilai dan prinsip meski godaan kenyamanan dan kemalasan datang menghampiri.
Disiplin bukanlah pengekangan. Ia adalah kebebasan sejati, bebas dari dominasi hawa nafsu, bebas dari ketergantungan pada mood, dan bebas dari perbudakan kebiasaan buruk. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
Artinya: “Dan orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Itulah mujahadah. Itulah kedisiplinan sejati, berjuang melawan diri sendiri. Menolak jalan pintas, menunda kenikmatan sesaat demi capaian jangka panjang. Karena memang benar
لاَ مَجْدَ إِلاَّ بَعْدَ مَشَقَّةٍ
Artinya: “Tiada kemuliaan kecuali setelah kesulitan.”
Kedisiplinan adalah bentuk kesetiaan pada komitmen diri. Setiap keputusan untuk tetap teguh pada nilai dan jadwal yang telah dibuat, meski tak ada yang melihat, adalah pondasi dari harga diri sejati.
مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
Artinya: “Barangsiapa bersabar, dia akan menang.”
Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan dalam amal dan waktu. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata
جِهَادُ النَّفْسِ هُوَ أَصْلُ الجِهَادِ
Artinya: “Jihad terhadap diri sendiri adalah asal dari segala jihad.” (Madarijus Salikin)
Mereka memahami bahwa mengatur waktu adalah bagian dari mengatur jiwa. Dan siapa yang berhasil mengatur dirinya, maka ia lebih mulia daripada yang mengatur seribu orang lain.
ضَبْطُ النَّفْسِ خَيْرٌ مِنْ ضَبْطِ الغَيْرِ
Artinya: “Menguasai diri lebih baik daripada menguasai orang lain.”
Orang yang hidup dalam kedisiplinan sesungguhnya sedang menempuh jalan mulia. Ia sedang menajamkan kehendak, membentuk karakter, dan menyelaraskan hidupnya dengan nilai-nilai kebenaran. Di ujungnya, ia tak hanya memperoleh kesuksesan, tapi juga ketenangan jiwa, karena telah hidup setia pada apa yang diyakininya benar, bukan sekadar apa yang mudah.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى نُفُوسِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الْمُنْضَبِطِينَ الَّذِينَ لاَ يَخْذُلُونَ عَهْدَهُمْ مَعَكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الطَّاعَةِ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا.
Artinya: “Ya Allah, bantulah kami mengendali diri kami sendiri, jadikan kami termasuk orang-orang yang sabar dan disiplin, yang tidak mengkhianati janjinya kepadaMu. Teguhkanlah kami dalam ketaatan hingga kami bertemu denganMu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmatMu kami memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusan kami dan jangan biarkan kami bersandar kepada diri sendiri meski sekejap mata pun.”
Aamiin…
Irfan Suba Raya
