Makassar, muisulsel.or.id – Manusia diberikan akal dan kemampuan berpikir. Karena itu, untuk mencapai sebuah keyakinan, seseorang tidak semestinya menerima segala sesuatu secara mentah tanpa melalui proses berpikir, pengkajian, dan pencarian ilmu.
Hal tersebut disampaikan Dr. KH. Yusri Muhammad Arsyad, Lc., MA saat memaparkan materi di hadapan peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan di Hotel UIN Alauddin Makassar, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, dalam proses mencari ilmu, seseorang terkadang berada pada posisi syak (الشك), yakni keraguan atau belum adanya kepastian terhadap suatu persoalan.
Menurutnya, keraguan tidak selalu bermakna negatif. Dalam konteks pencarian ilmu, keraguan justru dapat menjadi pintu awal seseorang untuk melakukan penelitian, membaca, bertanya, dan berpikir lebih mendalam.
“Jangan takut untuk mengatakan, saya belum tahu,” ujarnya yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Sulsel.

Ia menegaskan, pernyataan “saya tidak tahu” bukanlah tanda kebodohan. Sebaliknya, pengakuan tersebut dapat menjadi pintu awal seseorang untuk mendapatkan ilmu.
Seseorang yang ingin memperoleh pengetahuan, kata dia, harus melalui sebuah proses. Mulai dari membaca buku, belajar, berdiskusi, bertanya kepada guru, melakukan penelitian, hingga menguji informasi yang diterima.
“Dari proses tersebut lahirlah ilmu. Ketika ilmu semakin kuat dan bukti semakin jelas, ilmu tersebut kemudian melahirkan keyakinan,” jelasnya.
Ia kemudian menggambarkan proses tersebut dengan tiga tahapan:
الشك → العلم → اليقين
Syak → Ilmu → Yakin
Menurutnya, syak mendorong seseorang mencari ilmu, sedangkan ilmu yang benar akan mengantarkan manusia menuju keyakinan.
Karena itu, seseorang tidak seharusnya terburu-buru mengklaim telah yakin sebelum melewati proses pencarian, pembelajaran, dan pembuktian.
KH.Yusri juga menjelaskan perbedaan antara syak dan raib (الريب). Syak lebih dekat dengan kondisi ketika seseorang belum mampu memastikan antara dua kemungkinan, sementara raib dapat mengandung nuansa keraguan yang disertai kegelisahan atau kecurigaan.
Ia mengingatkan, keraguan yang dimaksud bukanlah keraguan tanpa akhir atau sikap meragukan segala sesuatu tanpa dasar. Keraguan harus menjadi jalan menuju pencarian kebenaran.
“Syak bukan tujuan akhir. Syak adalah titik awal pencarian. Ilmu adalah prosesnya, sedangkan yakin adalah salah satu tujuan akhirnya,” katanya.
Menurutnya, Allah SWT memberikan manusia akal dan kemampuan berpikir agar manusia dapat mencari, memahami, dan mencapai kebenaran melalui sebuah proses.
Karena itu, seorang penuntut ilmu, termasuk calon ulama, tidak perlu malu mengakui keterbatasan pengetahuannya.
“‘Saya tidak tahu’ adalah awal dari pencarian ilmu. Ilmu yang benar mengantarkan kepada keyakinan, dan keyakinan yang benar mengantarkan manusia semakin mengenal kebenaran,” pungkasnya.
*Irfan Suba Raya*
