Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar,muisulsel.or.id – Haji Wada’ bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia adalah perpisahan penuh makna, saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menutup misi risalahnya dengan nasihat abadi yang menggugah hati umat. Itulah satu-satunya haji beliau setelah hijrah, dan menjadi haji pertama sekaligus terakhir, momen penuh air mata dan cahaya petunjuk.
Pada tahun ke10 Hijriyah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengumumkan niat hajinya. Berbondong-bondong umat Islam dari berbagai penjuru menyambut panggilan ini, lebih dari 100.000 sahabat radhiyallahu anhum berkumpul untuk menunaikan ibadah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dari Madinah, beliau berihram di Dzul Hulaifah (Bir‘Ali), bertalbiyah dengan suara lembut
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Artinya: “Aku penuhi panggilanMu, ya Allah… Tiada sekutu bagiMu.”
Kemudian beliau thawaf, sa’i, lalu menetap di Mina pada 8 Dzulhijjah. Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuju Arafah, di sanalah beliau menyampaikan khutbah terakhirnya yang agung, khutbah yang menjadi warisan kepada seluruh umat.

Hadits tentang Haji Wada’ yang mengisyaratkan perpisahan, dimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا
Artinya: “Boleh jadi aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini.”(HR. Muslim)
Maka inilah Haji Wada’, pertemuan terakhir antara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan umatnya di tanah suci. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menangis. Para sahabat gemetar. Hati mereka tahu, cahaya kenabian akan segera kembali kepada Rabbnya.
Di atas unta Qaswa’, di tengah padang Arafah yang panas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan khutbah yang menyentuh hati tentang menjaga kesucian darah, harta, dan kehormatan
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا
Artinya: “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (tidak boleh dilanggar) atas kalian, seperti haramnya hari ini, di negeri ini, di bulan ini (Dzulhijjah).”
Islam datang membawa perlindungan dan kehormatan. Tak boleh ada kezhaliman di antara manusia.
Dan wasiat untuk memperlakukan kaum wanita dengan baik sekaligus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat derajat para wanita yang sebelumnya tidak bernilai di masa jahiliyah kecuali di antara kecil mereka yang memiliki nasab dan kedudukan.
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
Artinya: “Berpesanlah baik-baik tentang (memperlakukan) wanita.”
Wanita yang dulu ditindas, kini dimuliakan oleh Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan hak dan tanggung jawab dengan adil dan rahmah.
Dan juga penegasan kesempurnaan agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.”.(QS. Al-Ma’idah: 3).
Umar bin Khattab radiyallahu anhu menangis saat ayat ini turun, karena ia sadar, sang Nabiullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah menyempurnakan risalahnya, itu pertanda bahwa tidak lama lagi beliau akan meninggalkan umatnya.
Serta wasiat mulia untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasullulah shallallahu alaihi wasallam
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Artinya: “Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, Kitab Allah dan sunnah NabiNya.” (HR. Hakim)
Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak hanya berhenti sampai di situ. Dalam hadits lain, beliau berwasiat dengan kalimat yang menjadi poros keselamatan.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي، فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Artinya: “Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Sebuah peringatan dan pedoman agar umatnya tidak mudah berpaling dari jejak tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para khalifah penggantinya yang lurus di atas petunjuk dari kalangan pemimpin kaum muslimin.
Haji Wada’ adalah jejak cinta yang tertinggal. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah lagi berhaji setelahnya. Beberapa bulan kemudian, beliau wafat meninggalkan umat dalam terang cahaya Al-Qur’an dan Sunnah.
Maka siapa pun yang melangkah ke Tanah Suci hari ini, hendaknya ia hadirkan kesadaran bahwa ia sedang menapak jejak terakhir Nabi mulia Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sedang menyimak wasiat-wasiat penghabisan yang dilafadzkan dengan cinta dan air mata.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى
Artinya: “Ya Allah, limpahkan shalawat atas Nabi Muhammad, dan kumpulkan kami bersamanya di surga Firdaus yang tertinggi”. Aamiin…
Irfan Suba Raya
