Hidupkan Takbir di Bulan Dzulhijjah

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Saat fajar pertama bulan Dzulhijjah menyingsing, langit menampakkan keagungan seakan membawa pesan langit kepada bumi, membisikkan bahwa waktu istimewa telah tiba. Sebagaimana firman Allah

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

Artinya: “Dan ingatlah Allah di hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. al-Baqarah: 203).

Hari-hari itu sebagaimana dijelaskan para ulama adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari inilah, amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari lainnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam

ما من أيامٍ العملُ الصالحُ فيهن أحبُّ إلى الله من هذه الأيام العشر

Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” (HR. al-Bukhari).

Hari-hari itu bukan sekadar hari-hari biasa. Ia adalah kesempatan langka, anugerah agung dari Rabb Yang Maha Pengasih, untuk mengumpulkan pahala, menumpahkan air mata tobat, dan menghidupkan lisan dengan dzikir.

Dan di antara syiar paling besar yang nyaris terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia modern saat ini adalah, TAKBIR.

Takbir bukan sekadar kalimat yang dilantunkan dengan lisan. Ia adalah pernyataan iman, pembebasan jiwa dari penghambaan kepada makhluk, dan pengagungan total kepada Allah. Inilah syiar kaum mukminin sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Di masa para sahabat, Madinah pernah bergema oleh kalimat

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Sebagaimana riwayat Bukhari rahimahullah secara muallaq menyebutkan bahwa

عن ابن عمر وأبي هريرة رضي الله عنهما أنهما كانا يخرجان إلى السوق في أيام العشر فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما

Artinya: “Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu bertakbir, dan orang-orang pun bertakbir karena takbir keduanya.” (HR. Bukhari).

Chamdar Nur Lc SPd MPd, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel

Betapa indahnya, pasar pun menjadi mimbar dzikir, bukan sekadar tempat jual beli. Takbir membahana, bukan hanya syiar hari raya, tapi cahaya yang menyinari hari-hari Dzulhijjah. Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar untuk bertakbir, lalu orang-orang pun mengikutinya. Inilah musim dzikir, saat bumi bergema dengan seruan tauhid.

Namun hari ini banyak kaum Muslimin belum mengetahui bahwa takbir dalam syariat dibagi menjadi dua jenis penting, yaitu yang pertama disebut Takbir Mutlak yang tidak terikat oleh waktu, tempat, atau keadaan tertentu. Ia bisa dibaca kapan saja dan di mana saja, baik pagi atau malam, di rumah, pasar, kendaraan, atau bahkan di sela-sela pekerjaan.

Takbir ini dimulai sejak 1 Dzulhijjah dan berakhir sebelum magrib pada 13 Dzulhijjah, mencakup seluruh sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan hari-hari Tasyriq.

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata

التكبير المطلق: هو الذي لا يتقيد بوقت، ولا بحال، ولا بسبب، فيجوز في سائر الأوقات من ليل أو نهار، في البيوت، والأسواق، والمساجد، والدروب

Artinya: “Takbir mutlak adalah takbir yang tidak terikat oleh waktu, keadaan, atau sebab tertentu. Ia boleh dibaca di seluruh waktu, baik siang maupun malam, di rumah, pasar, masjid, dan jalanan.”(Tashhih ad-Du’a).

Yang kedua yaitu, Takbir Muqayyad adalah takbir yang terikat dengan waktu dan ibadah tertentu, yaitu dibaca setelah salat fardhu selama hari-hari tertentu dan adapun waktu pelaksanaannya bagi selain jamaah haji, dimulai sejak setelah Subuh tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) dan berakhir setelah Ashar tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan

وهو التكبير عقيب الصلوات، يسمى التكبير المقيد، لتقييده بحال أو وقت معين، بخلاف المطلق

Artinya: “Takbir setelah salat disebut takbir muqayyad karena ia terikat dengan keadaan atau waktu tertentu, berbeda dengan takbir mutlak.” (al-Majmu).

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan

وأما المقيد فهو عقب الصلوات في عيد الأضحى فيكبر بعد الصلوات في جماعة وفي غير جماعة

Artinya: “Adapun takbir muqayyad adalah yang dilakukan setelah shalat-shalat pada hari Idul Adha, baik dalam salat berjamaah maupun tidak.”(al-Mughni).

Terdapat beberapa lafaz takbir yang diajarkan dan diamalkan oleh para ulama. Semuanya disyariatkan dan bisa diamalkan bergantian, yaitu

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Para ulama menyebutkan bahwa bacaan takbir pada hari-hari mulia Dzulhijjah maupun hari-hari lainnya dalam ibadah seperti salat ‘id, disyariatkan dengan beberapa lafaz yang semuanya sah dan berasal dari riwayat yang valid. Maka, perbedaan dalam bentuk lafaz tidak boleh dijadikan dasar untuk saling mengingkari, karena termasuk dalam wilayah ikhtilaf tanawwu (variasi dalam ibadah).

Karena takbir adalah syiar tauhid yang paling agung, seruan bahwa tiada yang lebih besar dari Allah di tengah dunia yang terus membesar-besarkan selainNya. Ia adalah warisan hidup dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum.

Dengan takbir, hati kita kembali tunduk, dzikir menjadi nafas jiwa, dan ruhani kita hidup kembali, bahkan di tengah kesibukan dunia yang kian menyesakkan. Takbir bukan hanya lafadz, tapi kekuatan spiritual yang menyatukan umat dalam satu kalimat, Allahu Akbar.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata

والتكبير في ليلتي العيدين، وفي عشر ذي الحجة، وفي أيام التشريق، مسنون في الجملة

Artinya: “Takbir pada malam Idul Fitri dan Idul Adha, di sepuluh hari Dzulhijjah, dan hari-hari Tasyriq, adalah sunnah secara umum.”(al-Mughni)

Jangan sampai hari-hari terbaik di bulan Dzulhijjah ini berlalu begitu saja tanpa makna. Mari kita hidupkan takbir mulai dari tanggal 1 hingga 13 Dzulhijjah. Penuhi rumah dengan gema Allahu Akbar dan tanamkan syiar mulia ini dalam keluarga, terutama anak-anak kita. Ajarkan mereka bahwa tujuan hidup bukan sekadar dunia, melainkan untuk menyatakan keagungan Allah

اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Di tengah ramainya suara musik, teriakan pasar, dan hiruk-pikuk politik dunia, ingatlah bahwa langit hanya menggema dengan kalimat yang haq

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Mari jadikan suara takbir ini memenuhi bumi, melalui lisan kita, keluarga kita, masjid dan pondok kita (bisa pakai toa untuk mengingatkan). Karena bisa jadi, satu takbir yang tulus dari kita hari ini menjadi sebab turunnya rahmat bagi umat dan bangsa ini.

Semoga Allah menghiasi lisan kita dengan takbir, membersihkan hati kita dengan keikhlasan, dan mengisi amal kita dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Allahu Akbar wa Lillahil Hamd. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk terus istiqamah dalam menghidupkan dzikirullah. Aamiin…

 

Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.