HIKMAH HALAQAH: Salat Orang Musafir, Part 2

Makassar, muisulsel.or.id – Salat adalah perintah Allah secara langsung kepada hambanya tanpa dengan adanya perantara, oleh salat ini adalah puncak penghambaan seorang manusia kepada Tuhannya serta mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa.

Pada bab pembahasan kota kali ini, akan melanjutkan pengajian pekan lalu terkait salat bagi orang yang sedang musafir atau dalam perjalanan.

Adapun salat bagi orang yang sedang musafir, maka ia diberikan keringanan oleh Allah yakni dibolehkannya menjamak salat tersebut bahkan mengqasharnya sekalipun.

Namun, dalam pelaksanaannya, menjamak salat dan mengqasharnya dalam kondisi musafir ini juga ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah, apakah perjalanan tersebut memiliki tujuan tertentu atau tidak, berapa lama ia akan melakukan perjalanan itu dan berapa lama ia boleh melakukan jamak tersebut, serta jarak yang akan di tempuhnya.

Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa saat mereka melakukan perjalanan, keduanya melakukan qasra dalam salatnya dan tidak berpuasa dalam perjalanan yang jaraknya lebih kurang 81 km.

Hadis lain yang bersumber dari Daruqutni bahwa Nabi Saw bersabda; Wahai penduduk Mekah, janganlah kalian melakukan qashra kurang dari 4 burj atau 81 km.

Selain dari itu perlu juga di perhatikan berapa lama ia akan menetap di tempat tujuannya tersebut, jika tertentu lamanya di suatu tempat itu maka hanya boleh menjamak hingga 4 hari lamanya.

Namun, bagaimana jika di tempat tujuan tersebut ia tidak pasti berapa lama akan menetap? Terdapat 7 syarat apabila hendak melakukan salat jamak dalam musafir, apa saja syarat-syarat tersebut? Saksikan penjelasan lengkapnya dalam tayangan video link berikut ini.


Kontributor: Nur Abdal Patta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.