Langkah Menghadapi Masalah, Tipu Muslihat dan Kematian

Munawir Kamaluddin (Komisi Hukum dan HAM MUI Sulsel)

Makassar, muisulsel.or.id – Jalaluddin Rumi yang juga dikenal dengan nama Jalāl ad-Dīn Muhammad Balkhī atau sering pula disebut Rumi  yang hidup pada tanggal 30 September 1207 dan meninggal pada tahun 17 December 1273) merupakan seorang penyair sufi Persia. Salah satu syair yang pernah diungkapkan Ar Rumi adalah tentang menghadapi Masalah, Tipu Muslihat dan Kematian

كم يفرّ المرء من بلاء ليقع في آخر! كم
يهرب من ثعبانٍ فيلقى تنين ! طالما أحتال الإنسان ، كانت حيله شركًا وقع فيه ، وكان موته فيما حسبه حياةً له

“Berapa kali seseorang melarikan diri dari satu penderitaan hanya untuk jatuh ke dalam penderitaan yang lain! Berapa banyak orang yang lari dari ular dan bertemu naga! Selama seseorang menipu, maka tipu muslihatnya adalah jebakan yang membuatnya jatuh ke dalamnya, dan kematiannya atas apa yang dianggapnya sebagai nyawanya.

Pesan hikmah yang disampaikan oleh Jalaluddin Ar-Rumi dalam kutipan tersebut mengandung beberapa konsep yang dapat diuraikan antara lain:

1. Lari dari Masalah:

Dalam Islam, manusia diajarkan untuk menghadapi ujian dan cobaan dengan sabar dan tawakal kepada Allah SWT. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an menegaskan pentingnya bersabar dalam menghadapi masalah: “Dan bersabarlah kamu (wahai Muhammad) dengan apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)

Melarikan diri dari masalah, baik dengan menghindarinya atau menutup mata terhadapnya, tidak selaras dengan ajaran Islam. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar manusia berusaha mencari solusi yang sesuai dengan ajaran agama dan menghadapi masalah dengan kepala tegak.

2. Metafora Ular dan Naga:

Dalam Islam, menghindari dosa kecil dan godaan adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, niscaya Allah akan melindungi kamu dari dosa-dosa besar.” (HR. Ahmad)

Metafora tentang ular dan naga mengajarkan bahwa kita harus berhati-hati terhadap godaan kecil yang bisa membawa kepada dosa besar. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam tentang menjauhi segala bentuk perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

3. Tipu Muslihat:

Tindakan curang atau menipu adalah perilaku yang dilarang dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah bagi orang yang curang! Celakalah bagi orang yang curang!” (HR. Muslim)

Dalam Islam, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Oleh karena itu, melakukan tipu daya atau kecurangan hanya akan membawa kerugian di dunia dan di akhirat.

4.Persepsi Kematian:

Islam mengajarkan bahwa kematian adalah realitas yang pasti dialami oleh setiap manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian, yang akan menghapuskan kerendahan hati dan menghilangkan kecintaan kepada dunia.” (HR. At-Tirmidzi)

Penting bagi umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan amal shaleh dan taubat. Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang abadi di akhirat.

Dengan demikian, pesan hikmah Jalaluddin Ar-Rumi mengajak umat Islam untuk menghadapi masalah dengan keteguhan iman, menjauhi dosa-dosa kecil yang bisa membawa kepada dosa besar, menghindari tipu daya dan kecurangan, serta mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan amal shaleh dan taubat kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.