FIQIH PUASA: Malam dan Hari Badar Terjadi Pada 17 Ramadan, Ada Apa?

Dr KH Syamsul Bahri Abd Hamid Lc MA (Sekertaris Komisi Fatwa MUI Sulsel)

Makassar, muisulsel.or.id – Salah satu muatan Ramadan adalah bermujahadah yang kuat, dan bagi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya adalah berjihad dengan jiwa dan raga mereka demi agama, bangsa dan kebersamaan yang damai, aman dan tentram.

Pada pekan ke-3 Ramadan itu perilaku fisik ibadah dan perjuangan menjulang tinggi dan mengerucut menuju titik tinggi pada titik berupaya dan bermujahadah. Mengapa demikian?, kondisi umat diberi tantangan lebih besar yaitu tantangan menggapai kesuksesan, kedamaian dan keamanan.

Orang yang mendapatkan pekan ke-3 Ramadan harus membuktikan diri bahwa semangat beramalnya terus berlanjut ,berkarya dan membuktikan kesungguhan di sisi Allah Swt dan umat manusia, untuk keperluan santunan fakir miskin, sedekah, zakat, ibadah malam dan ketulusan terhadap sesama terus dilangsungkan oleh orang-orang berpuasa.

Ada satu malam di pekan ke-3 Ramadan ini yang penuh spirit dan harapan yang tak boleh terlewatkan yaitu malam 17 Ramadan, malam ini dikenal dengan malam Badar (purnama bulan), bukan karena bulan purnama masih relatif sempurna karena dua hari berlalu 15 hari usia bulan Ramadan, tetapi karena padang Badar dipenuhi kaum muslimin dan Rasulullah Saw untuk bermunajat di padang Badar, memohon pertolongan Allah Swt, untuk kuat dan tangguh menghadapi Abu Jahal, Utbah dan Utaibah yang merupakan dedengkot agresor yang ingin umat ini tiada selamanya.

Malam Badar adalah malam turunnya malaikat untuk merespon harapan orang-orang beriman bersama-sama para malaikat itu menghalau agresor kejam dan bengis dengan ketangguhan nabi dan para sahabatnya.

Keesokan harinya pada 17 Ramadan secara pasti buah doa dan ratapan terbukti menyelamatkan bencana besar,sebanyak 314 sahabat bersama nabi sukses dalam perjuangan, disertai dengan gugurnya mujahidin sahabat kurang lebih 14 orang di medan Badar.

Peristiwa itu bukan faktor kebetulan bertepatan dengan malam dan hari turunnya Al-Qur’an pada Nabi Muhammad Saw di Gua Hira sesuai riwayat yang ada, tetapi waktu yang dipilih oleh Allah Swt menyempurnakan perjuangan dakwah billisan menjadi dakwah bil hal itulah terjadi pada 17 Ramadan.

Dikalangan banyak ulama secara turun-temurun menjadikan malam Badar dan hari Badar sebagai malam dan hari yang masih terus membawa sejumlah kemuliaan masa dan tempat perang Badar tiap kali bulan Ramadan datang kembali, sehingga dianggap sebagai momen-momen ijabah dan perjuangan bagi orang-orang beriman.

Diantara hal yang sering dikerjakan para ulama yang ingin mendapatkan momen 17 Ramadan adalah malam harinya banyak berdoa dan meratap,kemudian pada siang harinya bersungguh-sungguh mewujudkan sesuatu yang bernilai dan nyata baik itu sedekah atau mewujudkan pengentasan dan karya. Dan diantara yang banyak dicontohkan adalah berzikir pada malam 17 Ramadan dengan ucapan kalimat thayyibah atau surah-surah pendek, dengan mengulang sebanyak 314 kali seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas atau surah Insyirah yaitu dengan niat masing-masing untuk kesuksesan dan kejayaan ,ini terbukti terkabulkan dikalangan para ulama dalam kurun masa-masa lalu.

Pengulangan sampai 314 itu adalah wujud menghadirkan semangat Badar yang jumlah jiwa orang beriman di medan laga kala itu diyakini 314 bersama Rasulullah Saw.

Insya Allah kebajikan apapun yang diniatkan dan dikerjakan dengan menjadikan Nabi Muhammad Saw dan perisriwa-peristiwa yang pernah meliputnya akan selalu baik hasilnya bagi manusia di depan Allah Swt., bukankah Allah telah menjamin pada Nabi Muhammad Saw bahwa penyebutan terhadap Nabi Saw dalam berbagai hal adalah terangkat di sisi Allah?; Firman Allah Swt yang artinya “Sungguh telah Aku angkat penyebutanmu Muhammad ; wa rafa’na laka dzikraka” adalah dalil atas keabsahan munajat- munajat ini di malam dan hari 17 Ramadan.

Mari kita memanfaatkan 17 Ramadan sebagai momen ibadah dan tafakkur dan lebih dari itu momen kemenangan dan kepastian amal, tentu ini akan menjadi pintu menuju kejayaan di malam-malam pencarian Lailatul Qadar.
Wallahu A’lam.

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.