Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Hari ini, banyak orang bersemangat mencari ilmu. Ada yang mengikuti banyak kajian, membaca tulisan, artikel, jurnal, status, buku-buku tebal, bahkan belajar sampai jauh ke luar negeri. Tapi sayangnya, tidak sedikit yang melupakan satu hal penting, adab kepada guru. Padahal, sejak dahulu para ulama salaf selalu mengajarkan bahwa ilmu tidak memberi manfaat kalau tidak disertai adab. Guru bukan sekadar orang yang mengajarkan ilmu, tapi merekalah perantara yang Allah ta’ala pilih untuk membuka pintu pemahaman agama, menuntun menuju kebenaran, dan mendekatkan kepada Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman
يَرْفَعِ اللَّهُ ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ
Artinya: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah kemuliaan, dan orang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Tapi kemuliaan ini hanya akan terasa nyata jika dibarengi dengan adab, terlebih kepada guru.
Menghormati guru bukan karena mereka haus dihormati, bukan pula karena mereka ingin dipuja. Namun, Allah ta’ala lah yang memerintahkan kita untuk menghormati mereka yang membawa ilmu. Maka, memuliakan guru adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah ta’ala dan tanda bahwa kita menghargai ilmu yang diajarkan.
Adab kepada guru bukan sekadar formalitas. Itu adalah bukti bahwa kita menghormati ilmu yang keluar dari lisannya. Semakin baik adab kita, semakin terbuka pintu keberkahan dari Allah ta’ala.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata
ما جلستُ لأُحدّث حتى أذن لي شيخي، ولو كنت أعلم أكثر منه
Artinya: “Aku tidak pernah duduk untuk mengajar kecuali setelah guruku memberi izin, meski aku lebih tahu darinya.”
Lihatlah bagaimana rendah hatinya para ulama terdahulu. Mereka tidak pernah merasa lebih pintar dari gurunya. Mereka tahu, adab adalah kunci agar ilmu benar-benar masuk ke dalam hati.
Sering kali, ada murid yang tak mendapatkan manfaat dari ilmu, bukan karena ia kurang cerdas, tetapi karena ia tidak menjaga adab terhadap gurunya.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata
من وقّر العالمَ وقّر علماً، ومن استهان بالعالم ضاع علمه
Artinya: “Siapa yang menghormati ulama (guru), berarti ia menghormati ilmu. Dan siapa yang meremehkan ulama (guru), maka ilmunya akan hilang.”
Betapa banyak orang yang merasa pintar tapi suka menyela, mendebat, bahkan meremehkan gurunya. Padahal, sikap seperti itu justru menutup pintu hidayah. Sebaliknya, orang yang duduk dengan sopan, mendengar dengan penuh perhatian, mencatat dengan serius, dan mendoakan gurunya, ia sedang membuka jalan keberkahan yang luas.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata
بالعلم تُدركُ المنازل، وبالأدب تُحفظُ المنازل
Artinya: “Dengan ilmu seseorang meraih kedudukan, dan dengan adab ia menjaga kedudukan itu.”
Karena itu, hendaknya kita memuliakan guru dengan cara berbicara yang baik, tidak memanggil mereka sembarangan, dan selalu menunjukkan sikap sopan santun kita kepadanya.
Allah ta’ala berfirman
وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا
Artinya: “Dan ucapkanlah kepada mereka (orang tua) perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Ayat ini memang ditujukan kepada orang tua, tapi para ulama menyebut bahwa guru juga memiliki kedudukan seperti orang tua dalam urusan ilmu, bahkan mereka disebut ‘orang tua’ dalam agama.
Jika kita merasa ada yang kurang tepat dari apa yang disampaikan guru, maka sampaikanlah dengan lembut dan penuh adab, bukan dengan mempermalukan atau menyalahkan di depan umum. Tujuan kita bukan membuktikan siapa yang benar, tapi agar ilmu tetap terjaga keberkahannya.
Doakanlah selalu guru-guru kita. Karena lewat merekalah Allah ta’ala menyampaikan petunjuk. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَن صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ
Artinya: “Siapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikannya.” (HR. Abu Dawud).
Kalau kita belum mampu membalas secara langsung, maka doa adalah bentuk balasan terbaik.
Dan ingat, jangan pernah menyebarkan kekurangan atau aib guru. Semua manusia punya kekurangan. Tapi membongkar aib mereka sama saja dengan merendahkan ilmu yang mereka ajarkan.
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata
من تهاون بالعلماء ذهبت دنياه وآخرته
Artinya: “Siapa yang meremehkan ulama (guru), akan binasa dunia dan akhiratnya.”
Bentuk penghormatan terbaik kepada guru adalah dengan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Jangan hanya mengangguk dan mencatat, tapi jadikan ilmu itu nyata dalam sikap dan amal. Dan saat berada di majelis ilmu, duduklah dengan sopan, jangan memotong ucapan guru, jangan melangkah di depan mereka, dan jangan merasa lebih tahu. Semua itu menunjukkan bahwa kita tahu diri, tempat dan posisi kita sebagai murid.
Guru juga manusia. Mereka bisa keliru, bisa lelah, bisa salah ucap. Tapi murid yang bersabar, yang tetap menjaga adab dan doa kepada gurunya, akan Allah ta’ala angkat derajatnya dan Allah ta’ala tambahkan pemahaman dalam ilmunya.
Ketahuilah, orang yang paling sukses bukanlah yang paling cerdas, tapi yang paling tahu adab kepada gurunya. Banyak orang yang ilmunya luas, tapi tak memberi manfaat karena akhlaknya rusak. Dan banyak pula yang mungkin ilmunya sedikit, tapi karena adabnya tinggi, Allah bukakan baginya lautan hikmah dan keberkahan.
Maka mulailah dari adab. Sebelum sibuk menghafal, sebelum bertanya, sebelum ingin tampil, pastikan kita sudah menata hati untuk menghormati guru dengan ikhlas karena Allah ta’ala. Jangan anggap adab hanya pelengkap, karena justru di situlah letak keberkahan ilmu.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِينَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya: “Ya Allah, ampunilah para guru kami, angkatlah derajat mereka di surga, balaslah kebaikan mereka kepada kami dengan balasan terbaik, dan jadikanlah kami sebagai penyejuk mata mereka di dunia dan akhirat.”
Aamiin…
Irfan Suba Raya
