Makassar ,muisulsel.or.id — Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr.KH. Muammar Bakry, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepengurusan dalam Musyawarah Daerah (Musda) IX MUI Sulsel, di Hotel Four Point Makassar,Sabtu (22/8/2026).
Dalam pemaparannya, Prof Muammar mengungkapkan berbagai capaian MUI Sulsel selama periode kepengurusan, termasuk penguatan dakwah dan pelayanan umat melalui platform digital.
Ia menyebutkan, melalui TV MUI, telah diproduksi sekitar 2.200 konten melalui Facebook, 450 konten TikTok, 390 konten Instagram, serta lebih dari 800 konten YouTube.
“Program TV MUI mulai dari Simulasi, Perspektif, Pendidikan Kajian Makrifat dan seterusnya. Ini dimanfaatkan oleh masing-masing komisi yang ada di Majelis Ulama Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi digital juga memberikan dampak terhadap pelayanan MUI kepada masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat harus datang langsung ke kantor MUI untuk menyampaikan pertanyaan keagamaan, kini masyarakat dapat berkonsultasi secara virtual.
“Setelah kita buka pelayanan digital, ternyata ratusan pertanyaan datang dari masyarakat. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Komisi Fatwa dan selanjutnya kita jadikan buku,” katanya.
Prof Muammar juga menyampaikan sejumlah capaian kelembagaan. MUI Sulsel disebut telah memiliki kantor yang representatif dan memperoleh sertifikat ISO 9001:2015.
Selain itu, MUI Sulsel meraih peringkat keenam secara nasional pada 2022 dan meningkat menjadi peringkat kelima MUI se-Indonesia pada 2024.
Di bidang fatwa, MUI Sulsel telah menerbitkan sejumlah fatwa terkait persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Salah satunya mengenai eksploitasi manusia di jalanan serta persoalan pemberian kepada pengemis.
“Fatwa-fatwa yang kita keluarkan cukup banyak, termasuk persoalan eksploitasi dan penyediaan manusia di jalanan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan aktivitas Komisi Fatwa melalui podcast, jurnal, kajian serta penerbitan buku yang memuat jawaban atas berbagai persoalan masyarakat.
Sementara di bidang dakwah, MUI Sulsel menjalankan berbagai program melalui TV MUI, webinar, talkshow, kajian keislaman, hingga kolaborasi dengan berbagai lembaga.
Bidang pendidikan juga menjadi perhatian. Selama periode kepengurusan, MUI Sulsel telah melaksanakan program pengaderan ulama sebanyak empat kali, termasuk pengaderan ulama perempuan. Jumlah peserta yang mengikuti program tersebut disebut mencapai hampir 200 orang yang berasal dari kalangan kiai dan nyai muda.
“Ini menjadi bagian dari upaya kita menyiapkan kader-kader ulama muda untuk masa depan,” tuturnya.
Selain itu, berbagai komisi MUI Sulsel juga aktif menggelar seminar, diskusi publik, kunjungan ke daerah, serta kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Di bidang hubungan antarumat beragama, MUI Sulsel turut membentuk Forum Kemanusiaan Lintas Umat Beragama (FKLA) Sulsel dan melaksanakan berbagai kegiatan lintas agama, termasuk buka puasa bersama.
Prof Muammar menegaskan, seluruh kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya MUI Sulsel memperkuat peran sebagai pelayan umat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
“Semua kegiatan ini kita dokumentasikan dan dapat diakses melalui website MUI,” pungkasnya.
*Irfan Suba Raya*
