HIKMAH HALAQAH: Kalimat Tauhid Mengubah Cara Pandang terhadap Kehidupan

Dr. KH. Andi Abdul Hamzah, Lc., M.A.(Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Sulsel)

MAKASSAR, muisulsel.or.id — Kalimat La ilaha illallah bukan sekadar ucapan yang dilafalkan oleh seorang Muslim. Kalimat tauhid tersebut memiliki makna yang sangat mendalam karena mampu mengubah cara pandang manusia terhadap berbagai aspek kehidupan.

Ketika seseorang benar-benar memahami makna La ilaha illallah, tauhid tidak hanya berhenti sebagai keyakinan dalam hati, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Pertama, tauhid mengubah cara pandang manusia terhadap ibadah. Ibadah tidak lagi dipahami sekadar sebagai rutinitas atau kewajiban yang dilakukan karena kebiasaan. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Dengan pemahaman tauhid, seseorang akan menyadari bahwa seluruh aktivitas kehidupannya harus memiliki orientasi kepada Allah SWT. Bahkan aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Kedua, tauhid mengubah cara pandang manusia terhadap kekuasaan. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang dapat dimiliki secara mutlak oleh manusia. Jabatan, kedudukan, dan kewenangan merupakan amanah yang pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Karena itu, orang yang memahami tauhid tidak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk kesombongan, kepentingan pribadi, atau merugikan orang lain.

Ketiga, tauhid mengubah cara pandang manusia terhadap harta.Seseorang terkadang merasa bahwa harta sepenuhnya miliknya karena diperoleh melalui kerja keras, peluh, dan keringat sendiri. Akibatnya, ia merasa bebas menentukan apakah hartanya akan dikeluarkan atau tidak.

Namun, tauhid mengajarkan bahwa harta yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan amanah dari Allah SWT. Manusia diberikan kesempatan untuk mengelolanya, tetapi di dalamnya terdapat tanggung jawab kepada Allah dan sesama.

Karena itu, harta tidak seharusnya hanya dinikmati untuk kepentingan pribadi. Ada kewajiban untuk berbagi melalui zakat, infak, sedekah, dan membantu mereka yang membutuhkan.

La ilaha illallah pada akhirnya bukan hanya mengubah ucapan, tetapi mengubah cara manusia memandang ibadah, kekuasaan, dan harta.

Selengkapnya, simak video di bawah ini.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.