Prof Dr KH Muammar Bakry, Lc MA (Sekretaris Umum MUI Sulsel)
Makassar, muisulsel.or.id – Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa adalah surat keempat yang isinya banyak memuat tentang perintah-perintah Allah kepada kaum muslimin yang ada di kota Mekah.
Surat ini banyak berbicara tentang akidah Islam. Pasalnya, bagaimana umat Islam yang ada di Mekah mau melakukan perintah Allah seperti salat jika terlebih dahulu mengakui adanya Allah.
Begitupun sebaliknya, di kota Madinah para sahabat banyak menerima ayat-ayat yang berisi tentang pelaksanaan perintah Allah. Oleh karena ayat yang turun di Madinah ini banyak berbicara tentang syariat agama, yang berkaitan dengan hukum.
Dalam Al-Qur’an, surat An-Nisa adalah satu-satunya surat yang banyak bercerita tentang perempuan. Sebab di zaman jahiliyah perempuan tidak lebih dari sebuah barang yang bebas di pindah tangankan atau bisa di wariskan.
Al-Qur’an hadir dengan surat khusus ini, sebagai penghargaan terhadap perempuan. Dalam sebuah hadir dari Abu Hurairah ia mendengar Aisyah berkata bahwa tiadalah surat An-Nisa ini diturunkan kepada Rasulullah, melainkan Aisyah berada disamping Rasulullah.
Dalam riwayat dikatakan dari Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa surat An-Nisa ini setidaknya memiliki lima inti ayat di dalamnya. Yang pertama dalam surat ini menegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah mengorbankan kebaikan seseorang melainkan Allah membalasnya bahkan sekecil zarrah pun Allah pasti membalasnya.
Intisari yang kedua adalah jika kalian menghindari dosa-dosa yang besar, maka niscaya Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Yang ketiga yaitu bahwasanya Allah akan mengampuni segala dosa-dosa manusia terkecuali dosa syirik.
Bagaimanakah intisari keempat dan kelima dalam surat An-Nisa ini? Simak penjelasannya dalam kajian berikut ini.
Kontributor: Nur Abdal Patta

