Ketua MUI Sulsel: Kader Ulama Harus Kuasai Metodologi Fatwa

Makassar, muisulsel.or.id — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH.Najamuddin Abd Safa ,Lc.,MA menegaskan pentingnya penguatan kader ulama yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga mampu menjalankan tugas keumatan secara komprehensif.

Hal itu disampaikan Prof.Najamuddin saat memberikan sambutan pada Program Intensifikasi Pengkaderan Ulama (PKU) MUI Sulsel, yang digelar di Hotel UIN Alauddin Makassar, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, ulama memiliki tanggung jawab besar di tengah masyarakat, mulai dari penguatan keilmuan, pembinaan umat, hingga keterlibatan dalam berbagai persoalan sosial.

“Ulama adalah pewaris para nabi. Karena itu, kita harus menghormati ilmu dan menghormati guru,” ujarnya.

Prof.Najamuddin mengingatkan peserta agar penguasaan ilmu berjalan beriringan dengan adab kepada guru dan dosen. Menurutnya, ilmu tanpa adab dan penghormatan kepada orang yang mengajarkannya akan kehilangan nilai keberkahan.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan metodologis dalam menetapkan fatwa. Menurutnya, salah satu identitas ulama adalah kemampuan memberikan pandangan keagamaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Jangan terlalu cepat memberikan fatwa. Pahami dulu persoalannya, kuasai metodologinya, baru memberikan jawaban,” tegasnya.

Prof.Najamuddin menilai fatwa tidak boleh lahir hanya dari pengetahuan terbatas atau sekadar menghafal dalil. Seorang ulama harus memahami persoalan secara utuh, menguasai metodologi istinbath hukum, dan mempertimbangkan kondisi masyarakat.

Ia mengingatkan, kesalahan dalam memberikan fatwa berpotensi menimbulkan persoalan baru. Karena itu, kader ulama harus mampu membedakan persoalan sederhana dengan persoalan yang membutuhkan kajian mendalam.

PKU Harus Berkelanjutan

Prof.Najamuddin berharap program pengkaderan ulama tidak berhenti pada satu angkatan. Menurutnya, kaderisasi membutuhkan proses panjang dan sistem pendidikan yang berkelanjutan.

“Kalau bisa, PKU ini jangan hanya sekarang saja. Ke depan bisa disetarakan dengan program S2, bahkan kalau memungkinkan sampai S3,” ungkapnya.

Ia juga mendorong agar pengkaderan berikutnya memberikan ruang lebih luas bagi perempuan.“Perempuan juga perlu diberikan kesempatan,” katanya.

Prof.Najamuddin berharap peserta PKU memanfaatkan kesempatan tersebut dengan serius untuk memperdalam ilmu dan meningkatkan kemampuan membaca persoalan umat.

“Mudah-mudahan program ini betul-betul melahirkan kader ulama, bukan sekadar pakar,” pungkasnya.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.