Ketua MUI: Penguasaan Bahasa Arab Jadi Bekal Utama Ulama dalam Menetapkan Hukum

Makassar, muisulsel.or.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Najamuddin, menegaskan pentingnya penguasaan bahasa Arab bagi seorang ulama. Hal tersebut disampaikan saat memberikan materi kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) di Hotel UIN Alauddin Makassar, Senin, 3 Agustus 2026.

Dalam pemaparannya, Prof.Najamuddin yang juga pernah menjadi Guru Besar Sastra Arab Universitas Hasanuddin (Unhas), menjelaskan bahwa bahasa Arab merupakan salah satu ilmu mendasar yang wajib dikuasai oleh seorang ulama.

Menurutnya, Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama ajaran Islam menggunakan bahasa Arab. Karena itu, kemampuan memahami bahasa Arab menjadi bagian penting dalam memahami kandungan ayat maupun hadis secara tepat.

“Seorang ulama tidak bisa menetapkan hukum apabila tidak menguasai bahasa Arab. Al-Qur’an dan hadis menggunakan bahasa Arab, sehingga seorang ustaz, dai, maupun ulama harus memahami bahasa Arab dengan baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguasaan bahasa Arab bukan hanya sebatas kemampuan membaca dan menerjemahkan teks. Lebih dari itu, seorang ulama perlu memahami kaidah-kaidah bahasa Arab agar tidak keliru dalam menarik kesimpulan hukum dari ayat Al-Qur’an maupun hadis.

Prof. Najamuddin mengingatkan, pemahaman terhadap teks keagamaan tidak boleh dilepaskan dari kaidah kebahasaan. Sebab, satu teks dapat memiliki pemaknaan yang berbeda ketika ditinjau dari struktur, kaidah, maupun konteks bahasa Arab.

“Kalau seseorang tidak memahami kaidah-kaidah bahasa Arab, maka dia akan sulit memahami ayat ataupun hadis secara tepat,” katanya.

Perbedaan Mazhab Harus Dihormati

Dalam kesempatan tersebut,Prof.Najamuddin juga menyinggung fenomena perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurutnya, perbedaan mazhab dan pemahaman dalam Islam merupakan sesuatu yang lumrah selama memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat harus dibangun berdasarkan kajian ilmiah dan kaidah bahasa Arab, bukan semata-mata karena seseorang berada dalam organisasi atau kelompok tertentu.

“Perbedaan mazhab dan perbedaan pemahaman itu biasa. Yang penting, selama pendapat tersebut berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab dan memiliki dasar keilmuan, maka pendapat itu harus kita hormati,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar organisasi tidak menjadi dasar utama dalam menetapkan suatu hukum. Menurutnya, organisasi dapat menjadi wadah perjuangan dan pengabdian, tetapi penetapan hukum harus tetap berlandaskan metodologi keilmuan Islam.

“Bukan berdasarkan kaidah organisasi, tetapi berdasarkan kaidah bahasa Arab dan metodologi keilmuan,” tegasnya.

Materi tersebut mendapat respons aktif dari para peserta PKU. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan Prof. Najamuddin yang dikenal memiliki kepakaran di bidang bahasa dan sastra Arab.

Belajar Agama dengan Ikhlas

Selain membahas bahasa Arab, Prof. Najamuddin juga memberikan motivasi kepada para peserta PKU agar senantiasa belajar dan mengamalkan ilmu agama dengan niat yang tulus.

Ia berpesan agar para kader ulama tidak menjadikan kepentingan duniawi sebagai tujuan utama dalam menuntut ilmu dan mengabdi kepada agama.

“Barang siapa yang belajar agama dan mengurus agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan mengurus dunianya,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta para peserta agar tidak terlalu khawatir terhadap persoalan dunia ketika sedang menuntut ilmu dan mengabdikan diri untuk agama.

Menurutnya, keikhlasan dalam belajar dan mengamalkan ilmu akan mendatangkan pertolongan serta keberkahan dari Allah SWT.

Prof. Najamuddin kemudian menceritakan pengalaman hidupnya dalam menempuh pendidikan hingga mencapai jenjang guru besar. Menurutnya, perjalanan tersebut tidak terlepas dari pertolongan Allah SWT, ketekunan, serta keikhlasan dalam menuntut ilmu.

Ia berharap peserta PKU dapat menjadikan proses pendidikan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas keilmuan sekaligus membangun keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai kader ulama.

“Belajarlah dengan niat yang tulus dan ikhlas. Insya Allah, ketika kita ikhlas mengurus agama dan menuntut ilmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan nikmat dan pertolongan-Nya,” pungkasnya.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.