Hikmah Maulid di Maros, Prof Najamuddin Soroti Budaya Demonstrasi Mahasiswa di Kampus

MAROS, muisulsel.or.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Najamuddin Abd Safa, mengajak umat Islam menjadikan majelis ilmu sebagai bagian penting dalam membentuk akhlak dan karakter.

Pesan itu disampaikan Prof. Najamuddin saat membawakan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Nur Arrahman, Kabupaten Maros,Jalan Lanto Daeng Pasewang, Rabu (9/9/2026).

Dalam ceramahnya, Prof. Najamuddin mengawali dengan mengingatkan jamaah yang pernah melaksanakan umrah tentang keutamaan Raudhah di Masjid Nabawi. Menurutnya, banyak jamaah rela berdesakan untuk mendapatkan kesempatan beribadah di tempat tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa keutamaan ibadah tidak hanya terletak pada tempat, tetapi juga pada kemauan seseorang untuk belajar dan mendengarkan ilmu agama.

Ia kemudian mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Abu Dzar, sungguh engkau pergi pagi-pagi lalu mempelajari satu ayat dari Kitabullah (Al-Qur’an) adalah lebih baik bagimu daripada engkau shalat sunnah seratus rakaat.”

Prof. Najamuddin menjelaskan, maknanya adalah bahwa mempelajari satu bagian dari ilmu agama memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan dibandingkan dengan memperbanyak salat sunah.

“Yang penting kita duduk mendengar ajaran agama. Itu lebih baik daripada kita salat sunah seratus rakaat,” ujarnya.

Menurut dia, pesan tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang berilmu, terlebih mereka yang mau mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Soroti Demonstrasi Mahasiswa

Dari pembahasan mengenai pentingnya ilmu dan adab tersebut, Prof. Najamuddin kemudian menyinggung fenomena demonstrasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Ia menyampaikan pandangan kritis terhadap mahasiswa yang menjadikan demonstrasi sebagai aktivitas yang justru mengganggu proses pendidikan.

“Saya menyampaikan bahwa haram hukumnya mahasiswa demo dalam kampus,” tegasnya.

Ia kemudian mengaitkan pandangannya dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Hujurat ayat 2:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…”

Ayat tersebut pada dasarnya mengajarkan umat Islam untuk menjaga adab dan tidak meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW.

Prof. Najamuddin menekankan bahwa nilai yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah pentingnya adab, penghormatan dan etika dalam menyampaikan sesuatu.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan anak-anaknya.

“Kalau ada anak kita mau kuliah, kita biayai. Kita dukung sampai selesai kuliah,” katanya.

Namun, menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan tinggi seharusnya digunakan untuk memperdalam ilmu, bukan justru dihabiskan untuk aktivitas demonstrasi yang tidak produktif.

Ia bahkan melontarkan kritik keras terhadap mahasiswa yang terlalu sering mengikuti aksi.

“Kalau demo, apa gunanya ilmu ini?” ujarnya.

Meski demikian, konteks pernyataan tersebut menempatkan persoalan demonstrasi terutama pada cara, adab dan dampaknya terhadap proses pendidikan. Kritik terhadap kebijakan, kata dia, semestinya disampaikan dengan ilmu dan argumentasi yang baik.

Prof. Najamuddin kemudian mengajak jamaah kembali kepada tujuan utama pendidikan, yakni membentuk manusia berilmu sekaligus berakhlak.

Menurutnya, ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

“Mudah-mudahan kita bisa mencontoh Rasulullah SAW, cinta kita kepada Rasulullah bertambah, dan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat,” pungkasnya.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.