Memahami Hadis Secara Tekstual dan Kontekstual, Jangan Saling Menyalahkan

Makassar, muisulsel.or.id – Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, MA, mengingatkan pentingnya memahami hadis secara tekstual sekaligus kontekstual. Menurutnya, pemahaman hadis sebagai salah satu pedoman syariat tidak cukup hanya berhenti pada bunyi teks.

Hadis juga perlu dipahami dengan mempertimbangkan latar belakang, situasi, serta tujuan ketika hadis tersebut disampaikan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, pemahaman terhadap hadis tidak terlepas dari metodologi keilmuan yang memadai.

Hal tersebut disampaikan Prof. Abustani saat memaparkan materi Ulumul Hadis kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulsel di Makassar, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, perbedaan pendekatan dalam memahami hadis kerap melahirkan perbedaan pandangan di tengah umat. Sebagian orang memahami hadis berdasarkan teks secara langsung, sementara sebagian lainnya melihat konteks yang melatarbelakangi munculnya hadis.

Salah satu contohnya adalah persoalan gambar atau fotografi. Jika hadis mengenai larangan membuat gambar dipahami secara tekstual, aktivitas fotografi yang dilakukan masyarakat saat ini dapat dianggap memiliki persoalan yang sama.

Namun, pendekatan kontekstual mengajak umat melihat lebih jauh apakah kondisi dan latar belakang ketika hadis tersebut disampaikan sama dengan situasi kehidupan modern saat ini. Hal ini penting agar penerapan hadis tidak dilakukan secara serampangan.

Hal serupa dapat ditemukan dalam persoalan pakaian, penampilan, serta berbagai persoalan keagamaan lainnya. Karena itu, perbedaan pemahaman semestinya dipandang sebagai bagian dari khazanah intelektual Islam, bukan menjadi alasan untuk saling menyalahkan.

Mereka yang memahami hadis secara tekstual hendaknya tidak serta-merta menyalahkan kelompok yang menggunakan pendekatan kontekstual. Sebaliknya, kelompok kontekstual juga tidak semestinya menganggap pendekatan tekstual sebagai sesuatu yang keliru.

Agama Membutuhkan Keseimbangan

Prof. Abustani juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam memahami agama. Pemahaman agama yang terlalu bebas berpotensi membuat umat kehilangan pijakan. Sebaliknya, pemahaman yang terlalu kaku dapat membuat umat kesulitan merespons perkembangan zaman.

Menurutnya, sejarah umat Islam memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara kehidupan spiritual dan material. Kehidupan dunia memang bersifat sementara, tetapi bukan berarti umat harus mengabaikannya.

Penguatan ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan kekuatan material tetap diperlukan agar umat tidak mudah menjadi lemah. Karena itu, kehidupan dunia dan orientasi akhirat perlu ditempatkan secara proporsional.

Persoalan keseimbangan juga dapat dilihat dalam perdebatan teologi antara Qadariyah dan Jabariyah. Qadariyah menekankan peran manusia dalam menentukan perbuatannya, sedangkan Jabariyah lebih menekankan kehendak Tuhan dalam seluruh aktivitas manusia.

Jika pemahaman Jabariyah dibawa secara ekstrem, akan muncul persoalan mengenai tanggung jawab manusia. Sebab, apabila seluruh perbuatan dianggap sepenuhnya ditentukan Tuhan, bagaimana menjelaskan adanya pahala, dosa, surga, dan neraka?

Karena itu, umat perlu memahami hubungan antara kehendak Allah dan ikhtiar manusia secara proporsional. Pemahaman yang seimbang akan membantu umat tetap berpegang pada prinsip agama tanpa kehilangan kemampuan membaca realitas.

Pada akhirnya, pemahaman agama membutuhkan keseimbangan: teguh dalam prinsip, tetapi terbuka dalam memahami konteks dan perkembangan zaman. Perbedaan metode dalam memahami hadis tidak semestinya menjadi sumber pertentangan, melainkan ruang untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.