Makassar, muisulsel.or.id – Islam tidak cukup dipahami sebatas identitas keagamaan maupun pelaksanaan ritual. Lebih dari itu, Islam menuntut ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan total kepada Allah SWT yang harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Sulsel, Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., MA, saat menyampaikan materi Metode Fatwa pada Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulsel di Hotel UIN Alauddin Makassar, Selasa (4/8/2026).
Dalam penjelasannya, ia menguraikan bahwa esensi Islam dapat dilihat dari dua dimensi utama, yakni hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan sesama makhluk.
Dalam hubungan dengan Allah SWT, Islam mengandung makna taslim wal-inqiyad, yakni tunduk, patuh, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Ketundukan tersebut tidak hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dalam kehidupan.
“Setiap kali kita salat, kita mengikrarkan tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah SWT. Tetapi ikrar itu kemudian diuji dalam kehidupan kita. Betulkah kita seorang Muslim yang tunduk dan berserah diri kepada Allah?” jelasnya.

Menurutnya, salat menjadi salah satu bentuk konkret dari ketundukan tersebut. Gerakan berdiri, rukuk, sujud hingga duduk di antara dua sujud dilakukan bukan semata-mata karena manusia memahami seluruh alasan di balik perintah tersebut, melainkan karena Allah SWT memerintahkannya.
Hal yang sama terlihat dalam pelaksanaan ibadah haji. Umat Islam menghadap Ka’bah bukan karena menganggap bangunan tersebut memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat atau mudarat, melainkan karena menghadap Baitullah merupakan perintah Allah SWT.
Demikian pula dengan berbagai ritual haji yang berkaitan dengan batu, seperti tawaf mengelilingi Ka’bah, mencium Hajar Aswad, menyentuh Rukun Yamani, salat di sekitar Maqam Ibrahim hingga melempar jumrah.
“Semua itu kita lakukan dalam rangka tunduk, patuh dan berserah diri kepada Allah SWT. Karena Tuhan yang memerintahkan, kita melakukannya,” katanya.
Ia kemudian mengutip sikap Umar bin Khattab r.a. ketika mencium Hajar Aswad. Umar menyadari bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak dapat memberikan manfaat maupun mudarat. Namun, karena Rasulullah SAW pernah menciumnya, Umar mengikuti tindakan tersebut.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa inti ibadah bukan terletak pada benda yang menjadi bagian dari ritual, melainkan pada kepatuhan kepada perintah Allah SWT. Ketundukan menjadi ruh utama dalam setiap pelaksanaan ibadah.
Ujian Islam Terjadi di Luar Ritual
Ujian Islam, kata dia, justru terjadi di luar ritual. Salat lima waktu mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi nilai ketundukan kepada Allah harus dibuktikan selama 24 jam dalam kehidupan sehari-hari.
“Penilaian salat itu bukan hanya lima menit ketika kita salat. Pembuktian salat dalam kehidupan itu yang lebih penting daripada sekadar salat lima menit,” tegasnya.
Ia mencontohkan zakat sebagai ujian terhadap kecintaan manusia kepada harta. Demikian pula puasa menjadi ujian terhadap kemampuan mengendalikan diri, sementara ibadah haji menguji kepatuhan dan kesediaan mengorbankan harta serta tenaga demi memenuhi perintah Allah.
“Tidak semudah itu kita berislam. Setiap kali kita salat, pembuktiannya ada dalam ibadah. Tetapi di luar waktu salat, pembuktian tentang ketundukan itu yang lebih sulit,” ujarnya.
Islam Juga Harus Melahirkan Kedamaian
Selain dimensi hubungan dengan Allah, ia menjelaskan dimensi Islam dalam hubungan dengan sesama makhluk. Dalam konteks ini, Islam berkaitan dengan makna salam, yakni kedamaian, keselamatan, dan keamanan.
Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya menjadikan kehidupan sosial sebagai ruang untuk terus menebar kegaduhan, permusuhan, atau menghakimi orang lain. Islam harus menghadirkan rasa aman dan kedamaian bagi lingkungan sekitar.
“Kalau ada orang yang prinsip hidupnya bukan damai dan selamat, sedikit-sedikit membuat gaduh, sedikit-sedikit memusuhi orang, sedikit-sedikit mengkafirkan orang lain, sedikit-sedikit membid’ahkan orang lain, berarti dia belum sampai pada titik kedua daripada Islam, yaitu keselamatan,” jelasnya.
Dengan demikian, Islam tidak berhenti pada kesalehan ritual. Ketundukan kepada Allah harus melahirkan kesalehan sosial. Seorang Muslim tidak hanya dituntut taat dalam masjid, tetapi juga menghadirkan kedamaian, keselamatan, dan kemaslahatan bagi manusia di sekitarnya.
*Irfan Suba Raya*
